BERDAGANG MANUSIA DI KOLONG EQUATOR
Namanya Leny. Umurnya baru 13 tahun. Ia tinggal di perkampungan kumuh suku madura di dekat jalan tol 2 pontianak. Ia tinggal di atas rumah panggung 3 kamar yang dihuni juga oleh 3 keluarga lainnya. Di sore yang mendung itu, aku datang ditemani Zaki, Ibu Ria dari LSM Puan Asa dan Ibu Dumaria, Kanit PPA Pontianak. Kami memiliki keperluan yang berbeda saat itu. Aku hendak membuat film dokumenter, sementara Ibu Ria hendak menyalurkan bantuan pendampingan, sedangkan Ibu Dumaria hendak meneruskan investigasinya.
Setelah hampir dua jam kami menunggu, Leny datang dan segera dengan hangat menyapa kami, terutama Ibu Ria dan Ibu Dumaria. Maklum, mereka adalah orang-orang terdekat Leny yang mendampinginya di shelter setelah keluar dari jerat trafficker.
Dan setelah merasa nyaman mengobrol dengan kami, maka Leny pun siap aku wawancarai. Yang terjadi sesudah itu adalah perasaan yang teriris-iris mendengar kisah pilunya dan isak tangis leny saat menceritakannya.
Leny adalah produk broken home. Ayah-ibunya cerai, dan ayahnya entah di mana. Di tengah himpitan ekomoni yang sangat-sangat berat itu, Leny memutuskan untuk membantu kedua orang-tuanya. Maka selepas SD, Leny mencari-cari kerjaan. Kebetulan, temannya menawari dia untuk bekerja jadi pembantu rumah tangga di Kuching. Temannya mendapat tawaran dari seorang agen bernama Mak-Nyang. Maka mereka pun bertemu mak-nyang itu. Mereka dijanjikan gaji lima juta rupiah tiap bulan. Betapa uang sebanyak itu adalah tiket menuju tingkatan gaya hidup yang selama ini ada di sinetron, yang hanya bisa ia impikan. Namun, justru mimpi buruklah yang ia sedang ia mulai bersama agensi itu.
Dengan memalsukan identitas KTP dan Paspor, mereka memasuki kuching dengan selamat. Di sana, sudah ada mobil yang kemudian membawa mereka dan beberapa anak dari pontianak ke sebuah penampungan. Sesampai di penampungan itu, ia dipaksa minum pil anti hamil. Leny menolak dan bertanya, “Untuk apa aku harus minum pil ini?” Oleh orang agensi di penampungan itu, Leny diberitahu bahwa ia akan bekerja di kafe menemani tamu. Betapa kagetnya Leny. Ia meronta dan hendak lari, namun justru pukulan dan siksaan yang ia terima. Begitulah, ia dipaksa minum pil anti hamil.
Hari berikutnya, ia harus menemani tamu. Dan di hari pertama ia bekerja, ia harus melayani enam laki-laki. Beberapa hari kemudian, ia bahkan dipaksa melayani sampai 20 laki-laki. Kalau ia menolak, maka selain pukulan, Leny harus merasakan siksaan yang sangat tidak manusiawi, entah vaginanya dimasuki tumit atau ia dipaksa melakukan oral seks. Untuk melarikan diri jelas tidak mungkin.
Dua bulan di situ, datanglah satu orang dewa penolong, yakni salah seorang tamu di kafe itu yang akhirnya membawa leny melapor di kantor polisi setempat. Dan leny kemudian dikirim kembali ke pontianak, ditampung dan dirawat di shelter oleh Ibu Ria dan teman-temannya. Di situlah ia ketahuan terkena penyakit GO. “Sampai sekarang pun saya belum sembuh. Kalau kencing masih keluar nanah. Saya sudah tidak punya uang untuk berobat, ” katanya lirih. Butuh waktu lumayan lama bagi Leny untuk menghilangkan trauma yang ia derita. “Saya sangat menyesal kenapa waktu itu saya mau diajak ke Malaysia. Sekarang, setiap ada teman yang ditawari bekerja di sana, saya berusaha untuk melarang mereka.”
Betapa tubuh kecil itu sudah harus memanggul beban seberat itu di usia yang sangat-sangat belia.
Esok paginya, aku berhasil bertemu dengan dua orang narapidana pelaku trafficking. Dari pembicaraan dengan mereka, nampak sekali bahwa jaringan ini memakai sistem sel, di mana satu orang pelaku hanya berhubungan dengan satu orang lain tanpa tahu siapa yang ada di atas orang tersebut. Dua orang narapidanan itu adalah Eka dan Yanti . Eka hanya bertugas menyiapkan dokumen dan mengantar ke agensi di kuching, sedangkan Yanti adalah orang yang mencari calon pekerja. Untuk satu orang korban, mereka mendapatkan uang dua ratus ribu rupiah!
Sorenya aku mewawancari dua orang tahanan kasus trafficking di Rutan POntianak. Sama dengan dua narapidana wanita itu, kedua orang ini hanya operator lapangan yang tidak tahu siapa tuannya.
Uniknya, semuanya mengaku hanya membantu orang yang hendak cari kerja di malaysia. Mereka tidak tahu kalau mereka adalah penjual manusia sampai mereka tertangkap.Kebodohan itu dimanfaatkan dengan baik oleh para cukong, sehingga Bisa dibayangkan, di malaysia sana, para cukong sedang mengipas-kipaskan uang, sementara mereka merasakan kerasnya penjara.
Betapa kebodohan sangat identik dengan kemiskinan dan mungkin benar jika orang mengatakan bahwa kemiskinan adalah akar kejahatan. Setidaknya di sudut pandang itulah trafficking ini menancapkan kukunya. Kalimantan Barat memiliki lahan gambut yang luar biasa besar. Demikian pula potensi alam lainnya luar biasa. Terletak di bawah equator, kota pontianak sangat indah dengan sungai kapuas yang membentang di tengah-tengahnya. Ironisnya, itu semua tidak bisa meningkatkan harkat dan martabat penduduknya. Banyak sekali yang masih tinggal di bawah garis kemiskinan, yang membuat mereka berlomba-lomba mencari kerja ke negeri tetangga.
Beberapa hari berikutnya aku merasa gelisah. Aku merasa bersalah saat mengingat bagaimana aku menghamburkan uang begitu saja untuk menikmati mr. Jack. Apalagi aku sempat bertemu seorang teman di sebuah kafe di bilangan kemang, dan kami berdua beberapa kali mengomentari tingkah polah anak-anak orang kaya yang tengil-tengil (istilah betawinya “sepa”) membanggakan betapa kaya-nya mereka – yang mungkin mereka tidak tahu kalau itu semua hasil money laundering uang korupsi orang tuanya. Beberapa di antaranya seumuran dengan Leny, korban trafficking itu. Sungguh kontras ya, di jakarta orang-orang seperti itu bisa menikmati semuanya dengan mudah, sementara di sisi lain dari negeri ini, beberapa orang tega menjual sesamanya hanya demi mendapat uang dua ratus ribu rupiah yang mengakibatkan penderitaan luar biasa bagi korbannya.
Any way, c’est la vie! No need to feel guilty of what you have. Selama kita juga memperjuangkan apa yang selama ini kita yakini benar untuk ke-maslahat-an sesama, dan selama kita turut berjuang melawan kemiskinan dan kebodohan, we are on the same boat!
Stop Human Trafficking!

Yakin,
Terbaik untukmu, mereka, dan negara ini
Hampir diseluruh daerah terpencil terjadi trafficking. Anehnya para korban itu sebenarnya tau apa yang terjadi pada mereka. Saya pernah bertemu dengan segerombolan gadis-gadis kecil usia SMP, SMA asal Madura yang hendak ke Batam, untuk bekerja katanya. Di Indramayu gadis-gadis dapat leluasa memilih broker yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang diinginkan. Ada lagi di Bitung. Di Jakarta malah lebih…………banyak…