Fairy Tales: mandirinya rakyat Dusun Bulak Sempu Rembang
Sebelum tahun 2000, dusun Bulak Sempu Desa Sumber Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang adalah dusun yang sangat tertinggal. Kering. Miskin. Setiap hari mereka harus mengambil air di sumber mata air sejauh 1 kilometer dari dusun mereka. Setiap musim kemarau, tidak ada aktivitas pertanian sama sekali. Ekonomi mandeg. Para orang tua pun tidak mau menyekolahkan anak-anak mereka. Saat itu, praktis hanya ada segelintir anak yang sekolah sampai SMU. Benar-benar segelintir karena tiap angkatan paling hanya satu atau dua anak yang sekolah.
Dengan kondisi demikian, praktis banyak anak-anak muda lebih senang merantau untuk mencari nafkah. AKhirnya yang tertinggal di dusun itu hanyalah anak-anak, ibu-ibu dan para lanjut usia.
Sampai akhirnya pada tahun 2000, terjadilah sebuah “revolusi”. Para penduduk di dusun itu sepakat untuk secara mandiri membuat saluran air dari sumber air tersebut. Mereka iuran untuk membeli pompa air dan pipa serta secara gotong royong memasangnya. Ada yang menjual kambing, ayam, kayu mahoni yang mereka tanam, dan banyak lagi pengorbanan mereka. Siang dan malam mereka memperlebar sumber air. Kalau siang, maka para bapaklah yang mengeduk tanah dan malam hari giliran anak-anak muda yang bekerja sebagai buruh setelah pulang kerja. Semua dilakukan tanpa organisasi dan birokrasi.
AKhirnya saluran air tersebut terwujud.
Dan kisah dari negeri dongeng pun dimulai.
Setelah air mengalir lancar, maka roda perekonomian mulai menggeliat. Dapat dipahami karena mereka kemudian tidak perlu menghabiskan energi hanya untuk antri mendapatkan air. Setelah air mengalir, maka aktivitas pertanian pun berjalan saat musim kemarau. Dan dusun itu pun sedikit-demi sedikit mengalami transformasi sosial.
Para orang tua saat ini merasa malu kalau anaknya tidak sekolah. Sehingga di dusun itu saat ini pun sudah ada play group.
Aktivitas pertanian sangat maju sehingga pada tahun 2004 kelompok tani dusun itu mendapat penghargaan dari Presiden SBY. Ada sebuah cerita lucu pada saat itu. Mereka yang datang ke acara tersebut harus memakai sepatu. Dan sepulang dari gedung Pertanian itu, maka kaki mereka lecet semua. Dan akhirnya, saat keluar dari gedung, mereka menenteng sepatu mereka.
Pada saat diwawancarai wartawan, salah seorang wartawan menanyakan apakah mereka bangga dengan penghargaan itu. Jawaban mereka sungguh mengharukan. “Kami malah tidak pernah berpikir untuk mendapat penghargaan. Yang kami pikirkan adalah bagaimana supaya air mengalir ke tanah kami.”
Begitulah, sepantasnyalah mereka mendapatkan bantuan untuk aktivitas pertanian mereka. Namun bantuan tersebut tidak pernah datang.
Bantuan yang tidak pernah datang tersebut sama sekali tidak mempengaruhi impian mereka. Bayangkan, setelah roda ekonomi menggeliat, maka mereka secara mandiri iuran untuk mengaspal jalan di dusun itu, membangun sekolah dan masjid.
Pada tahun 2002, saat beberapa anak muda sadar bahwa ternyata kayu-kayu mereka sudah habis untuk dipakai membakar aspal, maka secara mandiri mereka mencari tumbuhan untuk penghijauan. Dan saat ini, dusun itu terlihat sangat hijau dan rapi.
Kemandirian masyarakat itu tidak pernah hilang. Beberapa orang tua di dusun itu mengakui bahwa tata nilai seperti kerja keras, hormat pada orang tua, gotong royong, ketulusan dan kejujuran itulah yang membuat mereka sampai saat ini terus mandiri membangun dusun mereka. Uniknya, mereka melakukan itu semua tanpa organisasi apapun. Bagi mereka, jika semua itu dilakukan melalui organisasi seperti karang taruna atau birokrasi desa, justru tidak akan terlaksana. Mereka pernah mengalami justru mereka hanya menghabiskan energi dalam perdebatan dan akhirnya terjadi pengkotak-kotakan. Bagi mereka, leader adalah mereka yang memiliki ide dan mau bekerja keras demi pembangunan dusun mereka. Begitulah mereka menghayati demokrasi. Demokrasi harus terwujud pada karya nyata. Dan saat semua terlaksana, tidak ada seorangpun yang mengklaim bahwa itu adalah karyanya karena impian yang menjadi kenyataan itu adalah hasil kerja keras mereka semua. Wah… kalau begitu, kita semua, khususnya para anggota DPR yang terhormat di istana senayan sana, sepertinya harus belajar banyak dari mereka ini.

Demokrasi, sedang benar – benar dipertanyakan di negara ini. Setidaknya untuk yang benar – benar memperjuangkan demokrasi, maka mulailah dari sekarang, untuk semua hal. Karena negara ini butuh tidak sekedar semangat.
Di negara ini demokrasi hanya asesoris politik. Demokrasi bukan berarti dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Tapi demokrasi; diDemo dan diKerasi. (Bener gak ya..?)