Melihat Chairil Anwar di baliho dan televisi: (maunya) eksistensialis (politik) yang (namun) tidak genuine
Beberapa minggu terakhir, mata dan telinga terasa dijejali oleh ILM yang menggambarkan seorang tokoh politik yang mengidentifikasikan dirinya dengan Chairil Anwar. Dengan mengutip dari puisinya berjudul “Diponegoro”, sang tokoh itu dengan lantang meneriakkan bahwa Hidup adalah Perbuatan. Wow! ILM di baliho terlihat sangat gagah, sementara di tv, terlihat sangat cool!
Namun entahlah, terasa ada sesuatu yang mengganjal di benak saya.
Membaca penggalan puisi Chairil Anwar tersebut segera menerbangkan ingatan saya pada saat SMA. Di kelas sastra, tiap tanggal 28 April, kelas kami mengadakan “Malam Chairil Anwar” untuk mengenang hari kematiannya. Di malam itu, kami secara bergiliran dan ekspresif (kata lain dari “norak” hehehe) membacakan puisi-puisinya, membuat musikalisasi puisi dan bersama guru sastra kami tercinta, Pak Gunawan (the greatest inspiration for us), kami membahas bersama-sama beberapa masterpiece-nya. Tak lupa, kami membuat kaos dengan tulisan “Sekali Berarti Sudah Itu Mati”. Momen-momen di tanggal 28 April tahun 1992 dan 1993 itu terus melekat di benak kami sampai sekarang.
Chairil Anwar mengajari kami satu hal: bagaimana menjadi genuine. Bagaimana ia total dalam menjalani hidupnya sebagai seniman. Dengan lantang ia mendobrak angkatan Pujangga Baru yang menulis puisi dengan terikat pada rima. Pilihan estetik puisinya menjadi salah satu milestone di sejarah sastra Indonesia karena pengaruhnya terasa pada puisi-puisi yang ditulis generasi sekarang.
Chairil Anwar adalah intensitas, obsesi yang radikal atas kehidupan, kematian, cinta dan eros. Di sebuah kesempatan ia berkata “hidup hanya menunda kekalahan…”, sementara di lain kesempatan ia berteriak “aku ingin hidup seribu tahun lagi.” Yang jelas, figur bohemian yang garang, kotor dan anarkis melekat pada sosoknya. Pada saat hidupnya, muncul beberapa pendapat yang mengatakan dirinya adalah plagiat. Mungkin itu karena dalam puncak karyanya, Chairil Anwar terlalu bersemangat dengan tulisan-tulisan, buku-buku dan gagasan eksistensialisme. Apapun pendapat orang, toh Chairil tetap lantang meneriakkan bahwa dirinya adalah “binatang jalang”, dan kita pun ikut merayakannya.
Dan inilah yang rupanya membuat saya merasa ada sesuatu yang tidak sreg pada ILM politikus tersebut. Ada sesuatu yang paradoks di ILM tersebut, yakni ILM tersebut mengangkat tentang sesuatu yang genuine (chairil anwar) untuk sebuah kampanye yang tidak genuine. Halah!?
Mungkin kampanye tersebut terinspirasi oleh model kampanye di luar negeri yang menggambarkan seorang tokoh politik dan kutipan ucapannya. Misalnya Foto Franklin Delano Rooselvelt dengan tulisan “There is nothing to fear except for fear itself “. Kutipan tersebut diambil dari pidato inaugurasinya.
Kutipan lengkapnya adalah
” So, first of all, let me assert my firm belief that the only thing we have to fear is fear itself — nameless, unreasoning, unjustified terror which paralyzes needed efforts to convert retreat into advance. In every dark hour of our national life, a leadership of frankness and of vigor has met with that understanding and support of the people themselves which is essential to victory. And I am convinced that you will again give that support to leadership in these critical days.”
FDR tidak pernah mengklaim bahwa kata-katanya adalah orisinal darinya. Namun ia mengatakan itu di tengah kelumpuhannya dari virus Pholio yang menggerogoti kakinya. Kita bisa merasakan bagaimana genuine-nya kata-kata itu karena berasal dari refleksi pengalaman hidupnya.
Sedangkan dari kampanye tokoh politik tersebut, sayangnya, para penonton tidak bisa melihat genuine-nya si tokoh dengan disandingkannya dengan milestone sastra kita.
Atau mungkin tim sukses kampanye itu hendak membuat citra tokoh tersebut yang seakan “above the frey”. Jelas, itu terlalu dini.
Ah.. itu semua kan pendapat pribadi saya.
Ah… betapa saya (dan mungkin kita semua) merindukan sosok yang sangat genuine di ranah hidup berbangsa dan bernegara ini.

I see, you member of DEAD POETS society. Are you Mr.Keating the captain?
Chairil menyadari betul fitrahnya sebagai manusia merdeka.Pikiran merdekanya membuat ia lebih lugas mengekspresikan perasaannya. Kata AKU ada dihampir semua puisinya, mungkin untuk menunjukkan keberadaannya di dunia ini.
Setelah Chairil tak ada lagi yang menyuarakan kemerdekaan jiwa seindah dia. Tau yang ada? Biographi2 yang saling menghujat, menyalahkan, membenarkan diri sendiri, mengaburkan sejarah bangsa, itu saja.
Bro… kau mau menjadi genuine? sumbang Ilmu, waktu, kesehatan, kemudaan. Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian. Carpe diem! seize the day!
Awal kemunculan seseorang yang menyatakan dirinya sebagai calon pemimpin biasanya ditandai dengan mengusung cita-cita idealis. Tapi idealis tinggal idealis setelah masa kepemimpinan tiba. Sang pemenang kekuasaan sibuk menghitung modal yang harus balik ke kantongnya, para pendukung saling berebut tender proyek atas nama pribadi atau kelompok. Akhiranya kebijakan yang dibuat tidak populer mensejahterakan rakyat, tapi memiskinkan rakyat.
Pesan idealis hanya doktrin penyesatan. Topeng pembungkus kepentingan pribadi.
Idealis hanya sebatas momentum. Apa masih ada orang yang hingga kini mempertahankan idealismenya sejak pikirannya dibuka dengan paham dan teori filsafat di bangku kuliah?
Beberapa teman yang begitu vokalis di organisasi kampus akhirnya menyerah pada bujukan kemapanan hidup dengan cara yang bisa dibilang kurang sopan.
Dipertemuan-pertemuan kami selanjutnya tentang pembahasan nilai hidup tidak berarti lagi, topiknya pindah menjadi pretise yang telah dicapai.
Aku melihat mereka sudah bukan mereka yang dulu, hatiku kelu melihat perubahan drastis kehidupan mereka. Mana semangat juang untuk memuliakan hidup pada alur yang benar?
Idealisme hanya momentum. Hanya tanda keberadaan seseorang. Hanya milik jiwa yang muda.
Gie berkata “berbahagialah orang yang mati muda.” ya! Karena mereka tidak perlu menanggung dosa atas lunturnya idealisme yang dibangun.
Tetaplah pada jalur yang kau percaya kawan, sedikit improvisasi adalah wajar. Untuk 100 abad dalam kenangan, tetaplah menjadi pribadi yang sederhana.
sastra kusukai sejak aku bisa membuat pusi, puisi pertama berjudul ‘Ayah,aku suka desa kita’, dan kemarin kubuat sebuah puisi dengan judul ‘dalam bunga lalu’, tentangmu.
biarkan roda terus berputar, lanjutkan mimpimu, dan termakasih slalu mendukung karyaku.
Apakah arti kata trimakasih bila yang diberikan ternyata begitu banyak.
Ya, Tuhan telah memberiku kembali warna melalui lembar yang berpendar-pendar berisi fantasi dan paradigma sang penulis di ruang ini.
Maka, kucoba kembali menyusun barisan kata “Mimpi adalah kunci meraih hidup sebenarnya”.