Pastur, Tuhan itu ada atau tidak sih? kok saya belum pernah lihat…

Malam suntuk habis persiapan acara untuk pagi ini, di tengah dinginnya Bandung, aku memiliki dua pilihan antara dugem atau ketemu Romo Abi, teman SMA yang saat ini berkarya di kota yang genit dan erotik ini. Maklum, sudah 15 tahun tidak bertemu dengannya, tepatnya selepas SMA.
Dan Romo Abi pun menjemput di Panghegar. Sungguh, sosok yang masih sama dengan 15 tahun yang lalu, hanya saat ini jauh lebih matang dan humble.
Kemudian cerita demi cerita memenuhi ambience di sebuah warung kopi khas Bandung. Tepat pada tengah malam, pemilik warung kopi itu mengusir kami karena mau tutup, sementara kami belum puas mengobrol. Maka sharing itu pun berlanjut di sebuah kafe kecil, ditemani Heinekken.
Pembicaraan tentang living-values di tengah tantangan kehidupan kosmopolitan sangat menarik. Lebih menarik saat Romo Abi menceritakan pengalamannya ditanya oleh anak SD. “Pastur, Tuhan itu ada atau tidak sih? kok saya belum pernah melihatnya?”…Wow…
Bagaimanakah menjelaskan masalah teologis kepada anak SD? Nah, Romo ini memberikan jawaban yang sederhana juga. Ia balik bertanya,
“Kamu punya nenek?”
“Punya.”
“Punya fotonya?”
“Punya.”
“Nenek kamu punya nenek?”
“Punya.”
“Punya fotonya juga?”
“Tidak.”
“Lho kok kamu tahu kalau nenek kamu juga punya nenek.”
” Pasti punya dong Pastur. Kalau gak punya nenek mana bisa ada nenek saya.”
” Tapi kan kamu tidak pernah melihatnya.”
” Iya, tapi saya percaya nenek saya punya nenek.”
Romo Abi tersenyum. Lantas melanjutkan,
” Begitu juga kita. Tidak pernah ada kehidupan kalau tidak ada yang menciptakan. Walaupun kita tidak melihat, kita percaya bahwa ada yang menciptakan kehidupan. Dan itu adalah TUhan.”
Wow… penjelasan yang simpel. Tapi mengena.
Obrolan kami lanjutkan. Tentang panggilan, tentang teman-teman, tentang karya, tentang masalah masing-masing, tentang apa saja. Maklum, 15 tahun tidak bertemu.
Ketika jarum jam yang pendek berada pada angka 2, kami sepakat untuk kembali ke habitat kami masing-masing.
Tetap saja, cerita tentang anak kecil tadi terus terngiang di telingaku.
Tuhan memang ada, apakah kita percaya atau tidak, apakah kita suka atau tidak. TUhan tetap berkarya. Dan living values yang kita yakini mungkin adalah salah satu karyaNya.
Sungguh merupakan pencerahan bagiku ditengah kompleksitas masalah yang tengah aku hadapi. Makasih sahabat. Met berkarya dan kita saling mendoakan.


12 Responses to “Pastur, Tuhan itu ada atau tidak sih? kok saya belum pernah lihat…”

  1. Ada orang yang bertuhankan cita-citanya, bertuhankan obsesinya, bertuhankan dunia. Ada juga yang mengingkari-Nya dalam keterpurukan hdup, kenistaan dan kesakitan.

  2. do you believe in Him?
    do you see Him IN D club?
    I’ll see you when I see you

  3. I Faith in God
    Only God knows and vanishs my destiny
    Only God can see my existance
    People just see what they see
    I faith in God
    For my fortune and misery

  4. Tuhan…
    Semua karya agung yang Kau berikan padaku tentang seorang Kristomo, yang saat ini sedang bergelut dengan kompleksitas yang dia hadapi, apapun dan siapapun dia, jangan pernah ini adalah akhir dari karyaMu atas sekelumit kisah ini. Aku bukan Romo Abi yang beruntung berjodoh dengannya setelah 15 tahun, aku hanya jiwa di dalam sebuah raga, yang berharap tubuhku tidak lagi bergetar saat mendengar suaranya, ataupun melihatnya suatu saat nanti.
    Tuhan…
    kami harus melangkah, buatkan karya lain yang lebih indah, amin

  5. Tuhan…
    terimakasih untuk karya indah yang pernah ada.
    Tuhan…
    berkaryalah kembali untuk kami dengan warna baru

  6. Masih…
    berdiskusi tentang Tuhan, keyakinan, dan jati diri
    Masih…
    di sudut sore, membiarkan bulir
    Masih…
    lelah

  7. di saat ini

    ingin ku terlena lagi

    terbang tinggi di awan

    tinggalkan bumi

    di sini

    (Memastikan tobatku
    Menerima kehendakMu
    Pantaskah aku menjadi hambaMU?)

    di saat ini

    ingin ku mencipta lagi

    kan kutuliskan lagu

    sambil ku kenang wajahMu

    (Kupanjatkan serenade doa untukMu
    Kugentakan pujian atas kuasamu
    Kugempitakan syukur atas nikmatMu)

    Malam panjang, remang-remang

    di dalam gelapnya kudengarkan

    syair lagu kehidupan

    (Dalam gelap malamMu
    Aku mengingatMu penuh seluruh)

  8. Tuhan, Engkaulah kasih sayang, kehidupan dan kematian. Engkau telah menciptakan jiwa kami. Engkaulah pembimbing roh kami menuju cahaya. Engkaulah penenang hati kami dan membuat hati kami berharap. Sekarang Engkau menunjukan aku pada bayangan yang menjadi ujianMu yang sukar kutolak.
    Tuhan, Engkau telah melemparkan hatiku pada suatu kegundahan, menderakan kesedihan melampaui kesenangan. Engkau telah menanam kembang kertas putih pada padang hati yang rawan, memindahkan kediaman sukmaku pada tempat yang jauh. Pada akhirnya menunjukan bahwa aku adalah manusia biasa yang lemah.
    Tuhan, jadilah kehendakmu untuk aku meminum cawan pahit kehidupan. Aku bukan siapa-siapa, aku hanya jiwa yang lemah, yang hanya bisa pasrah pada kehendakMu.
    Jika kita mencintai, cinta kita bukan dari kita atau untuk kita. Kegembiraan dan kedukaan bukan pula bagian dari kita tapi itu adalah rahasia alam.
    Tuhan, aku percaya pada arti kepahitan dukacita yang menembus hatiku dan pada kasih sayang abadi dariMu. Kini kupercepat langkahku padaMu. Tarik aku dari jalan yang sesat, rengkuh aku dari keindahan semu, peluk aku dalam kedamaian hatiMu, beri aku kehangatan kasih sejatiMu. PadaMu Tuhan kuserahkan hidupku. Goadaan dosaMu begitu manis, sungguh tak sanggup kutolak, tapi aku tak mau pula menjadi pendosaMu.

  9. Patur dan Pendeta itu bedanya apa? Lalu Romo itu apa? aku bingung, bisakah kumengerti dari warnamu?
    Ini tentang seseorang, jingga
    Kemabali hadir, menyapaku ringan, dan sama, melempar jangkarnya terburu. Kembali, Nasrani. Aku bilang, “Jingga, aku pernah sangat terluka, dan terlebih aku tidak yakin kau akan siap menari denganku, menyelaraskan nada kita yang jelas berbeda”. Jingga terus datang dengan segala sudut pandangnya. Aku capek, lelah, dan aku mundur. Aku paranoid, takut terluka lagi. Jingga tidak mau kutinggalkan, kupikir mungkin ada baiknya aku kembali mempercayai seseorang. Bahkan sampai membicarakan pernikahan campur,,hahahahh,,,,sudah rontok dunia ini. cinta-cinta, menyusahkan saja. Namun tiba-tiba, tanpa terjadi apa-apa, samar, hilang. Kembali terjadi! Jingga pergi. Sempat dia bilang akan menjadi pendeta jika aku bukan jodohnya,,hah? apa itu? lalu macam mana yang menghalalkan luka untuk orang lain begini? apa yang bisa ku logika? Dari yang dulu. logikanya anggap saja kehidupan kami tidak seiring, aku dianggap tidak bisa berada di putaran rodanya. Yang ini? apalagi ini? So, sudah habis. Iya habis, tidak bersisa kupikir. Atau ada luka lagi? Aku ingin datang ke tempat itu, melihat dan mendengarkan sendiri apa yang disampaikan. Apakah memang tentang luka, atau hanya manusia-manusia itu saja yang membuat luka menjadi halal?
    Kamu sangat tau aku, mungkin apa yang tidak kusadaripun kamu bisa mencernanya. Apa sedang DIA inginkan dariku? apa yang harus kumaknai. Hanya luka dan luka. Cinta itu narkoba, hehe.
    TUHAN…inikah hidup

  10. Cinta, cinta…
    Zaman lagi susah diskusi cinta
    Cinta bisa untuk menyediakan minyak tanah?
    Cinta bisa untuk membeli gas?
    Cinta bisa untuk biaya rumah sakit?

  11. sepertinya,,,
    kok yang sebelum ini salah nama
    makin mumet
    haahahha

  12. emm,,,
    Dia itu adalah yang kita pikirkan,,,
    tidak pernah kulihat Dia,,namun selalu hadir dalam dimensi lain yang akupun masih terus mencari,,,

Leave a Reply