SISI LAIN DARI BULAN

Bulan hanya bisa dilihat dari satu sisi permukaan jika diamati dari Bumi. Hal ini disebabkan oleh karena kala rotasi bulan adalah sama dengan kala revolusi(orbit) bulan mengelilingi bumi yaitu 27,32 hari. Artinya, sisi lain dari bulan tetaplah gelap bagi kita di bumi ini setidaknya sampai saat ini. Apakah bentuknya rata atau sama dengan yang kita lihat setiap bulan purnama, kita tidak pernah tahu. Dalam Romeo and Juliet, Shakespeare mengatakan bahwa Janganlah bersumpah atas nama bulan, karena bulan tidak pernah sama. Ada kalanya sabit, separoh atau purnama. Jadi kalau kita bersumpah setia atas cinta kita dalam nama bulan, maka jelaslah sumpah setia itu tidak akan pernah konstan. Namun mungkin jika shakespeare menyadari bahwa sisi permukaan bulan selalu sama menghadap kepada kita tanpa peduli sabit, separo atau purnama, maka mungkin dialog antara Romeo dan Juliet tersebut menjadi lain. Bahkan mungkin saja bisa jadi plot roman terheboh sepanjang masa yang tak lain adalah kisah cinta monyet sepasang remaja seusia anak smp yang lantas mati konyol karena ke-naif-an mereka (dan lebih konyol lagi itu dirayakan oleh peradaban sebagai simbol dari cinta sejati….alamak! So sweetly silly! ) itu bisa menjadi lain sama sekali.

Memang selalu mengasyikkan jika menjadikan sisi lain dari bulan tersebut sebagai metaphore dari manusia, yakni bahwa selalu ada sisi lain dari seseorang yang tidak pernah bisa dipahami oleh yang bersangkutan atau orang lain. Apakah itu termasuk dalam structure of mind yang selalu disebut oleh Freud sampai “mrongos” sebagai id? Ataukah ini berupa sisi kelam dari hidup? Atau ini mewakili labirin yang selalu dilalui oleh seseorang dan orang itu tidak pernah menyadari bahwa saat itu dirinya berada pada sebuah labirin entah itu berupa kecanduan akan apapun, kenaifan, dll. Apapun itu, mungkin saja kita merasakannya tapi toh tetap tidak dapat mendefinisikannya. Any way, selalu saja menarik untuk diketahui.

Mengakhiri malam insomnia ini, sepertinya bulan memang misteri, sebagaimana hidup itu sendiri adalah misteri.


10 Responses to “SISI LAIN DARI BULAN”

  1. Bulan terlihat indah dari bumi, actually it’s just daratan penuh bopeng seperti jalan-jalan Jakarta yang rusak setelah banjir, seperti mental korup pemerintah, seperti bangsa yang berlomba menjual negaranya bro…

  2. But its really,
    CINTA SEPERTI BULAN. TIDAK DAPAT KITA MENGERTI APAKAH AKAN BULAT SEPENUHNYA, SABIT, RATA, ATAUKAH BERGELOMBANG.

    :-> Fiuh,

  3. Semoga bulan tidak merubah wujudmu menjadi siluman srigala atau vampir. hi..hi..

  4. siapa?

  5. Mungkin pemandangan bulan dari sudut ini terlihat jelas. Bisakah mengajariku melihat bulan dari sudutku?

  6. kau datang dan pergi, begitu saja

    semua kuterima apa adanya

    mata terpejam dan kuhalangi waktu

    di ruang rindu kita bertemu

    lirik sederhana yang dinyanyikan Letto itu tanpa direncanakan menemani demamku petang ini. Ruang rindu, dimana setiap orang diperbolehkan merindukan siapapun yang ingin diimajinasikannya. Seperti kerinduanku pada seseorang di sebuah tempat, mendera dalam setiap tumpuan mataku, melantunkan simphoni kehidupan yang ingin kurenda dengannya.

    wahai kekasih, siapakah dirimu, yang rela menghabiskan sisa hidup denganku, menyiapkan kematian yang indah dalam sebuah cinta.

    Ingin kueja namamu, menyentuhmu dalam setiap denting kehidupan yang kulalui, meresapi hadirmu dengan secangkir kopi hangat di sudut beranda kita setiap sore.

    Kekasih, tahukah kau tentang apa yang kupikirkan saat menunggu hadirmu, dalam imajinasi liarku? Akankah kau hadir menemaniku, mengurai tawa dan airmata tentang apa saja yang kau alami sebelum bersamaku?

    Dalam diam, terengahku mengimajinasikanmu sayang, siapapun dirimu yang diberikan Dia untukku, entah warna yang pernah ada dalam episode hidupku ataukah warna baru dalam rangkaian pelangiku, maka biarkan seluruh diriku menjadi menjadi bagian kekasihku, bersinergi dalam sebuah energi cinta…

    Dini hari yang membuatku tidak bisa melanjutkan tidur nyenyak demi sebuah tuntutan hidup yang harus kupenuhi. Tentang keinginanku, mereka dan ibuku…Terusan berwarna putih semata kaki, menampakkan punggungku yang terbuka. Rangkaian lily ditanganku, nampak segar menyambut terbitnya mentari. Aku tersenyum merindukanmu, menantikan hadirmu. Penasaran kusimpan asa penuh getar yang menyisakan rona merah di wajahku. Andai engkau ada di depanku saat ini, sekarang, akankah berani aku memelukmu, seperti yang selalu kuimpikan selama ini. Membayangkanmu saja, tubuhku bergetar, luruh hatiku dalam cinta tanpa warna ini. Karena, aku belum tau warnamu kekasihku.

    Hari ini, saat ku diantara gelombang kerinduan yang dasyat akan hadirmu… Kau bilang akan datang meminangku. tak terperi gundahku, saat semalam kau mengajakku bercinta di ruang imajinasi kita. Hanya mengimajinasikanmu, membuat kepalaku terasa pecah. Hanya merasakan bayangmu memelukku dari belakang, oh aku merasa kau ada disini sekarang. Sekedar berbicara lewat angin, bercinta denganmu dalam cakrawala liar kita, kuingin segera melihat dan menyentuh hadirmu nyata sayang, kekasihku…

    Kukenakan satin hitam semata kaki yang memperlihatkan bahuku yang masih terasa kecupanmu semalam. Seikat mawar merah kubawa serta menuju pantai sore hari, menantikan hadirmu seperti yang sudah kita sepakati. Hidangan sudah tersaji di meja dengan hiasan warna emas. Undangan satu-persatu berdatangan. Keponakanku berlarian, menarik-narik ujung gaun hitamku, sambil bertanya, “Tante, habis menikah punya Dedek ya?”, aku hanya tersenyum. Beberapa hari lalu sudah kita bicarakan, kita akan hidup berdua mengarungi dunia dengan cinta. Ibuku mendatangiku, “Sudah makin sore, mana calon menantuku Nduk..”, lagi-lagi aku hanya tersenyum.

    Menengadah menatap langit. Sekarang matahari hampir tenggelam, dan engkau belum juga datang kekasihku. para undangan sudah mulai resah, Ibuku muram, keponakanku mulai menangis karena lelah, mungkin masuk angin terlalu lama di pinggir pantai. Aku masih tersenyum…

    Perlahan, ktelusuri bibir pantai. membiarkan air laut menggelitik. Ujung gaunku kubiarkan basah, tangkai demi tangkai kulempar mawar merah di tanganku. Kulihat mawar itu terbawa arus, aku berharap bunga tanda cinta itu mengarungi laut, dan sampai padamu kekasih. Agar kau tau, aku terluka di pinggir pantai, tempat kita akan merajut janji.

    malam datang purnama menggantung. Aku masih menantimu, berharap kau datang. Luruh airmataku bersama bayangan malam pertama kita, terbawa terbang bersama kecupan semu serta derita kerinduan yang kau ciptakan. Semua sudah pergi, meja hidangan selesai dikemasi. Kulepas sanggulku yang berhiaskan bunga sakura putih. kukalungkan scarf tebal warna gading, untuk mengusir angin yang makin menderu di pantai malam hari.

    Kupandangi langit, masih termangu di bibir pantai. Kembali seluruh janji dan asa yang kita rajut dalam ruang imajinasi, berputar dalam memori serta terasa menyayat hati. Aku tak mengerti kenapa kau tak pernah datang. Mengapa kau menghilang, mengapa kau biarkan calon pengantinmu sendiri di malam yang dingin. Perih, aku kembali terluka. Segala harap untuk mengarungi hidup penuh cinta yang hangat, terhempas, tanpa kutau kenapa. Ilusikah semua yang pernah ada antara kita, atau hanya pengusir sepimu. Siapakah kau gerangan…

    Tak dapat lagi kusebut kau kekasih. Luka yang kau toreh begitu dalam, keindahan yang kau buat tanpa makna.. Kosong…

    Sayang, kau masih memanggilku sayang, namun kau tak pernah lagi sayang padaku..Biar kusebut namamu untuk sebuah akhir, kekasihku..selamat tinggal. Terimakasih untuk luka tanpa warna ini. Aku mencintaimu dalam tanya, masih tetap dalam ruang imajinasi, karena kita adalah ilusi

  7. “PENDOSA”
    Berkali kata itu terngiang di telingaku, mendentam kepalaku, membuat sayatan-sayatan halus di hati. Langkahku perlahan gamang. Satu tohokan tepat di ulu hati menjalar segera ke jantungku. Tak sanggup kulepas dari satu bayang yang tak mungkin kurengkuh. Tak sanggup pula kulepas dari keindahan hidup yang ditawarkan. Betapa pengecutnya aku.

    Beribu mungkin berjuta pertanyaan “kenapa” menderaku dari segala arah. Kenapa membiarkan hidupmu terampas? Kenapa membiarkan hidupmu tanpa mimpi? Kenapa membiarkan semua berlalu bagai angin?
    Kenapa? Karena mungkin aku terlarang untuk hidup, untuk merasakan perjuangan dan perayaan cinta dan cita-cita. Aku diperbolehkan untuk menyia-nyiakan waktu, mengacuhkan cinta dan lari dari kepahitan hidup. Jadilah aku PENDOSA pada setiap hati yang rawan.

    Satu warna yang kulihat di bentangan hidupku adalah terang, dengan sedikit warna yang kadang membuatnya menjadi pastel. Merah hitam,aku tak mengerti. Hingga banyak kata yang tak kurasakan maknanya lagi, banyak rasa yang tak dapat kucecap lagi. Jadilah aku PENDOSA pada sepinya naluri insani.

    Tuhan…
    Terkutuklah aku yang menghirup hawa kesenangan dan menghembuskan nafas kebahagiaan hidup diantara hati yang menggundahiku.
    Terkutuklah aku yang menyunggingkan senyum dan mengerlingkan tatap dingin diantara wajah yang ramah.
    Terkutuklah aku Tuhan bila ini menenangkan jiwaku dan mengantarkan aku menjadi penghuni surgaMU.

    “PENDOSA”
    Kata itu menggaungiku disetiap saat. Merefleksikan pengembaraan permainan hatiku. Mataku panas dan perlahan aliran emosi merajahku. Kini kupilih diam, membiarkan takdir mengisi sang waktu, memasrahkan nasib menentukan kemurahannya untukku.

  8. aku belum menemukan jinggaku
    masih,
    menemuimu dalam hitam ini
    hanya disini tersa samar bayanganmu
    diantara gemerlap yang melingkupi
    hanya disini sebuah luka menjadi halal ditorehkan
    dan hanya disini pembenaran hidup tanpa arah
    mungkin hanya disini pula nantinya
    akan ada sebuah ujung
    masih,
    hingga kutemukan jingga itu

  9. Lelah juga ya,,hemm baru juga di beberapa titik
    Masih tidak bisa kutemui, padahal udah janjian lho
    Banyak yang lupa ingatan atau gimana begitu ya
    Yang pasti masih ingin selalu singgah, sekedar melongok.
    Semua belum bergeser, hinggap dipijakannya masing-masing
    Kapan ya bisa lagi bertengger dipinggiran jendela itu?
    Hemmm…biar kuteruskan, sambil terus singgah, karena aku ingin singgah walau tidak kubutuhkan itu.

  10. Bayang bulan pada sebuah jendela.
    Aku berdiri menyingkap tirai jendela pada satu sisi rumah dan seketika bulan terlihat begitu ramah untuk dipandang. Inikah bulan ke 14, yang kata orang terlihat penuh dan jernih?
    Aku baru menyadari satu fenomena alam ini. Segera suasana menghanyutkanku dalam diam sendiri. Merenung sekaligus berimajinasi siapakah dia yang ada di sana? Apa yang dilakukannya? Menanti seseorangkah? Atau mengembara menghabiskan usia yang terus beranjak turun dalam pencarian yang tidak pernah ada kata temu?
    Pada sebuah jendela di satu sisi rumah, kupandang bulan yang penuh dan bersinar terang. Andai benar yang dikatakan orang tentang Celine sang dewi bulan yang berdiam disana, bisakah ia turun ke bumi? Menghampiri dia yang di sana sembari berkata “Bulan ke 14 pun akan pudar cahayanya seiring tuanya bumi, tidak semua pertanyaan mempunyai jawaban, tidak semua pencarian mendapatkan temuan, hanya takdir yang akan berbicara.”
    Pada sebuah jendela di satu sisi rumah, segala temaram meliputi namun bayang bulan adalah pencuri hasrat pandangan. Sebelum jiwaku hanyut dalam laut emosi, kuhelakan nafas panjang, melepaskan sesuatu yang tertahan dan berharap melegakan satu ruang di dada.
    Pada bulan di atas sana adakah takdir Tuhan akan membiarkan sinarmu merebak jendela ini?

Leave a Reply