Prologue: Andai Malam Tak Berujung
Malam tersusun bagai sebuah mosaik. Kepingan demi kepingan mengantar mimpi, memberi ilusi.
Pada beberapa kepingan terasa bagaimana keringat, ilusi, gairah, cinta, benci, rindu dan segala naluri purba lainnya membakar langit, sementara idealisme dan ideologi lebur dalam dengkuran dan gemertak gigi di dalam kepingan sebelahnya.
Pada kepingan lainnya, beberapa doa diuntai saat kepala menengadah memandang langit dan batin luruh dalam sengsara, derita dan harapan kepada Sang Pemilik hidup.
Beberapa kepingan-kepingan kecil menebarkan bau bensin, solar dan sayur-mayur, di sela-sela tawa dan teriakan para sopir mikrolet dan pedagang yang memenuhi jalanan di depan pasar. Mirip dengan beberapa kepingan di sampingnya yang menayangkan beberapa orang sedang memelototi monitor komputer dengan kopi dan asbak penuh puntung rokok di depan mereka. Sementara itu, bau parfum murahan menyeruak di antara aroma bir, anggur merah dan topi miring, diiringi joged dan musik dangdut yang distel keras-keras dari tape dan soundsystem seadanya. Pada kepingan lain, pada kasta sosial lainnya, hal yang sama terjadi, hanya saja musiknya bernama dance-music dari turntable, parfumnya lebih lembut, dan minumnya illusion atau Mr. Jack Daniels. Namun, tingkah orang-orangnya sama saja.
Sementara beberapa jalanan telah berubah menjadi hutan belantara, dengan hukum rimba berada di tangan para preman. Keadilan menguap, hilang bersama angin malam.
Mosaik malam adalah cinta dan gairah pada kehidupan. Pada ujungnya, selalu ada jeda. Saat sepasang kekasih larut dalam diam di atas ranjang yang masih berasap sambil memandangi langit-langit kamar. Saat mereka pulang dari party, baik di pinggir jalan atau di klub, larut dalam diam, dengan hiruk pikuk masih tersisa di benak mereka. Saat para preman dan pedagang termenung memandangi langit, menyisakan kekerasan dan harapan akan hidup dalam otak mereka. Saat di mana mereka menemukan diri mereka, entah utuh maupun tinggal sisa-sisa.
Di pinggir Pantai Boulevard, Manado, Dito memandangi langit dan bintang-bintang. Lewat tengah malam ini, beberapa pasangan masih asyik pacaran. Di parkiran, beberapa mobil bergoyang tidak beraturan, seakan ada gempa di atas reklamasi pantai ini. Semua punya pasangan, hanya Dito yang duduk sendirian. Perasaan sepi menyelimuti hatinya. Cinta terasa asing baginya saat ini.
Di kolong langit kota Yogyakarta, Hans duduk memandangi istri dan dua anaknya yang masih balita tertidur pulas. Masa lalu dan masa kini yang sangat bertolak belakang malam ini seakan lebur menjadi satu. Sungguh lain hidup di biara dan di luar penjara suci. Saat ini ia berkalang tanah dengan pelacur, kepalan tangan, belati dan kekerasan lainnya. Sungguh lain dengan jubah putih dan rutinitas doa malam di masa lalunya. Hans menghela nafas dalam-dalam. Sungguh, hidup memang sebuah misteri.
Di Via Dei Foro Imperiali, di belakang Colosseo, tepatnya di kafe Gladiator, Nathalie duduk termenung. Sosok Frater Hans seakan masih duduk di depannya. Lima tahun lalu mereka bertemu di tempat ini, dan cupid mengikat batin mereka. Kisah cinta itu terlantar saat Frater Hans tiba-tiba pulang ke Indonesia tanpa kabar yang jelas. Malam ini terasa begitu panjang
Di sebuah apartemen di daerah Kemang, Audrey mematikan komputer dan telpon selulernya. Otaknya terasa penuh setelah semalaman ini ia melakukan cybersex dengan chatmate-nya. Semua kata sayang dan cinta pasti keluar dari mereka, baik laki-laki maupun perempuan, seakan mereka adalah sepasang kekasih yang hidup dengan penuh cinta. Ah….mana ada cinta di dunia maya? Bagi Audrey, cinta adalah Bram, tokoh LSM yang selama ini menjadikannya simpanan. Dan malam ini, seperti beberapa malam terakhir, Audrey harus melewatkan malam dengan jari tengahnya sendiri.
Mosaik malam perlahan luruh. Namun beberapa dari mereka berharap malam tak berujung, dan pagi tidak akan pernah datang.

Tapi malam di Bahari begitu indah. Amben yang kutiduri di halaman rumah yang bertepikan pantai membuat ragaku hanyut. Langit bertabur bintang adalah sinar alam yang meneduhkan suasana. Debur ombak adalah nina bobokku yang syahdu. Hembusan angin laut bagai belaian kekasih hati. Inilah tempat malamku habis.
Out the night that covers me,
black as the pit from pole to pole
I thank whatever gods may be for my unconquerable soul.
(W.E. Henley)
cintaku kini juga seperti malam yang kau inginkan tidak berujung. Gelap, kosong, ditengah warna malam yang habis di dalam secangkir Huzelnut Coffee ataupun potongan sushi yang sedang kugemari. Hanya, aku menemukan malamku lebih indah dalam balutan kepasrahan pada pelukanNya. Dalam harap setelah malam ini akan lebih indah
Andai malam tak berujung?:-),,hmm pastinya tak ada esok hr,dan tak kan pernah ada cinta yg mgkn bs ditemukan dlm lain waktu,,dan hdp akan terasa sngd tdk hdp,dimana sgl kejenuhan,gejolak utk memberontak,dan keinginan utk lari menghindari dr smua mslh selalu kembali pd satu keputusan Yaitu “pasRah”spt ciNta yg pernah aq alami pdMu. . . .
Andai malam tak berujung
masihkah kau dan aku disini
menyusuri pantai maya, saling menyiprak canda
memandangi langit imaginasi, saling menggantungkan cita-cita
merasakan dingin yang melingkupi, saling memberi asa
Namun, bisakah ketika selubung malam disingkap
kita membiarkan ini?
karena kita memang ada
dengan takdir yang berbeda
masih,,,
saat tak berujung, menyelesaikan penantian,,
Bahkan mataharipun tidak perlu dinanti
Dalam malam itu, ribuan cahaya berpendar membantuku mengartikan malam, karena diapun larut dalam warna-warni itu.
Apa yang paling ditunggu selepas malam?
Pagi di bulan Desember,angin muson barat bertiup kencang membuatku hany setengah membuka jendela. Jubah kamar yang kupakai tak pernah kubiarkan melonggar.Sungguh aku takut hipotermia menyerangku.
Kuhampiri telephone seluler di meja samping ranjangku, kuperiksa pesan dari provider, namun kosong.
“Apa kabarmu pagi ini penyairku? Kau isi dengan apa malammu tadi?” Aku harap kau dapat mengistirahatkan dirimu pada satu tempat yang damai, sembari merancang hari esok yang ingin kau habiskan.
Aku menjerang air. Kakiku mulai merasakan dinginnya lantai. Tidak jangan sekarang bila ingin menguji imun dinginku Tuhan. Aku masih menjerang air dan penyairku belum pulang dari pencariannya. Aku ingin melihatnya pulang, memberinya senyum pagi dan menceritakan kemurahan Tuhan atas hidup yang diberikan.
Angin muson barat mulai terasa dinginnya. Pintu depan kubuka pelan dan kuambil harian yang sudah dilemparkan loper di awal matahari terbit. Kutengok jalan di muka rumah tapi penyairku belum pulang juga. Aku tidak melihat bayangnya.
Teko jerangan airku mendesis tanda matang. Aku segera beranjak meinggalkan pintu terbuka menuju ke dapur.
Hembusan angin bertambah kencang, tali jubah tidur putihku mulai melonggar juga jepitan rambut ikalku mulai lepas. Kuaduk dua minuman hangat, untukku dan penyairku. Bila ia pulang, ia dapat segera menghangatkan badannya dengan secangkir kopi.
Matahari pagi enggan meninggalkan peraduannya di timur dan angin bertambah kencang. Kuputar sayup Michael Bubble dan duduk memanjangkan kakiku di atas sofa yang menghadap ke jalan sembari menikmati kopi.Sebentar lagi penyairku pulang.
Music yang kuputar terasa melambankan rima di sekitarku. Kain sindur yang selalu tersadar di sofa kugunakan menyelimuti kakiku.
Angin muson barat bertiup kencang dan penyairku belum juga pulang. Lamat-lamat suara musik terdengar membuat semua makin melamban. Dan penyairku belum pulang juga. Ingin kudongengkan keindahan hidup yang dipenuhi keikhlasan, agar semua yang terjadi mempunyai makna dan mencapai kemuliaannya. Agar hidup tidak seperti angin yang berlalu.
Angin bertiup lebih kencang dan lebih kencang lagi. Dalam bayang semu penyairku pulang, wajahnya tersenyum menggambarkan kepuasan hati untuk semua yang telah dijumpai. Aku tersenyum dan bahagia.
Kini aku bisa menghadapi ketentuan Tuhan. Aku kembali pasrah pada takdirNya.
K,
pada sebuah huruf biarkan kutitipkan
K,
berujng dimana ya kehidupan ini
pada apa, sebuah persiapan kematiankah?
K,
seseorang itu akan datang dalam wujud seperti apa ya?
ada yang sudah datang, tapi mengajakku terbang
aku ingin terbang, tapi kalau jatuh pasti lebih sakit
Karna kepakannya terlalu kuat
K,
apa yang dibutuhkan untuk menjadi rasional
Otak sudah mulai miring, bahkan amnesia
K,
aku mengantuk, tidak ada yang melegakan selain..
memejamkan mata dan tidak memikirkan apa-apa
apakah saat itu,
adalah kematian?
K,
akankah persiapan kematian itu begitu rumit?
tidak bisakah dipersiapkan sambil tertawa lepas
K,
perlukah sebuah pernikahan dimasukkan dalam persiapan kematian?
hemmm,,,aku mengantuk
mataku berat sekali
Pada sebuah huruf
K,
teko peppermint tea ini mulai hangat
Tak sepanas tadi
Sudut yang ditengi matahari ini perlahan gelap
K,
sebotol asam tak lagi terasa
masih juga tak kutemukan apa
Inikah hidup, kenapa begitu lain
Apa yang sedang kualami?
Segala sesuatunya belum lagi ada dalam genggaman tanganku
Namun, aku sudah mulai terpenjara
Atau aku yang memilih masuk dalam jeruji ini?
K,
Aku butuh bantuanmu untuk memaknai ini
Setinggi apa aku akan terbang?
Aku ingin terbang sendiri, sanggupkah aku?
K,
pernah pada pijakan ini?
seperti apa ujungnya
K,
baiklah, Surabaya mulai kehilangan sore
aku harus melanjutkan diskusi ini
Satu tahun lewat, tetap hangat
K,
datanglah kapan-kapan
Sekedar menghirup peppermint tea di sudut sore
agar pijakanmu lengkap
K,
lasagna siang ini terasa hangat menjalari rongga laparku
hemm,,kejunya terasa menggigit
K,
relku semakin menyempit, menuju sebuah stasiun
harus membayar peron jika mengunjungiku
namun, belum suara peluit itu menandakan kedatanganmu
K,
sudah sampai mana?
mendung jugakah disana
Oiya, aku sudah di mulut hingar bingar
aku sudah mulai mendekati garismu
Akankah ada jeda sempat berada dalam satu garis
K,
berapa pasang lagi?
biarkan surut, dengan sebuah jawab
K,
aku lanjutkan dulu lagsanaku, mulai dingin
K
sempat kau maki aku karna keluhku
bukankah berbagi itu wajar
K
kembali aku kesini dan akan slalu
disini kutitip mimpi
K
kau tau wajahmu berkabut dari teluk tanpa pasang dan surut ini
entah bisakah kuhapus sendumu?
K
dinding gelap ini adalah teman sepiku
inginku tetap ada untukku
K
kau boleh pergi, aku juga akan kembali
tapi biarkan dinding ini tetap di sini
K
hari kemarin, kini dan esok dinding ini slalu di benakku
biarkan semua tanya dan jawab dimiliki waktu