SERENDIPITY BULAN DI LANGIT SEI JODO
Malam bagai sebuah mozaik. Tersusun dari kepingan ilusi di dalam kepala manusia yang diselimutinya. Ilusi, bukankah itu yang membuat manusia tetap hidup? Setidaknya, malam membuktikan kalau ilusi-lah yang membuat manusia merasa nyaman sebelum tidur. Tanpa reserve, pikiran dan hati merasa sangat damai. Dan hidup terasa begitu enteng. Bukankah itu lebih berharga dari apapun saat ini? Lantas, mata tertutup dan selamat tidur. Mimpi indah-lah kalau beruntung.
Di luar sana, tentu saja kehidupan sedemikian keras, kasar dan tidak adil.
Malam ini bulan menggantung di langit Sei Jodoh. Langit tanpa awan. Bintang-bintang berkilauan bagai intan yang berserakan. Di bawahnya, Singapura genit bermandikan cahaya. Dan di atas lautan, kapal-kapal menyalakan lampunya. Ada sedikitnya sembilan kapal kecil dan tiga kapal besar di atas selat itu. Ada yang bergerak menuju pulau itu. Ada juga yang diam. Cahaya lampu membuat mereka seperti para peri malam yang berterbangan dan Singapura bagaikan negerinya.
Aku termangu di kamar lantai paling atas Hotel Nagoya Batam. Dari balik kaca jendela kamar, genitnya Singapura itu terpampang bagaikan di dalam aquarium. Di tengah malam ini, cahaya dari desa modern itu menyisakan kesepian yang subtil di kamarku.
Sebuah keheningan begitu saja terbentuk saat memandanginya dan lansung menyergapku serta membuaiku. Berbagai macam perasaan dan pikiran menyeruak. Tiba-tiba saja kegelisahan menggelayuti benakku. Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang seharusnya aku lakukan namun tidak pernah aku lakukan. Semacam unfinished business. Tapi entah apa.
“Lantas apa yang kita lakukan barusan juga ilusi?” suara Lusy memecah keheningan itu. Kupandangi tubuh indah di depanku yang kupeluk membelakangi aku ini.
” Iya.” Jawabku singkat. Mataku melihat langit-langit kamar hotel ini. Ada tulisan Kiblat dan arah panah di situ.
” Teriakan kita, gigitanku, pelukanmu yang hampir mencekik tubuhku saat orgasme, kemudian kita berpelukan dengan keringat, seperti itu kamu sebut ilusi?”
” Iya.”
” Lantas tubuhku dan tubuhmu, itu juga ilusi?”
” Iya.”
” Sudah gila kali ya kamu…” Lusy membalikkan tubuhnya. Wajahnya menempel di wajahku. Nafasnya wangi. Keringatnya juga wangi. Rambutnya yang ikal jadi kian berantakan karena basah.
” Dito, jadi aku ini ilusi buat kamu? Demikian juga kamu ilusi buat aku?”
” Dalam hal ini iya.”
” Get out of here!” Lusy menjentikkan telunjuknya ke hidungku sambil tertawa.
“ Orgasme itu kan hanya sekian detik durasinya. Habis itu selesai. Yang membuatnya menggairahkan adalah ilusi kita tentang sex itu sendiri.”
” O ya? ”
” Nafsu, gairah dan keringat kita adalah hasil dari ilusi itu.”
” Jadi tidak riil dong.”
” Hasilnya riil. Kita orgasme bersama.”
” Kalau tidak ada ilusi, berarti sex itu tidak enak dong.”
” Pasti. Jadi sangat mekanis, seperti mesin. Tidak lagi menggairahkan dan indah.”
” Ah, bagi aku, sex itu tetap enak kok tanpa ilusi.”
” Bahwa sex itu enak, itulah ilusi.”
” Begitu?.”
” Aku ingat cerita tentang orang yang masuk surga. Malaikat memberi tahu bahwa di surga tidak boleh minum alkohol, tidak boleh merokok dan tidak boleh main sex. ”
” Terus?”
” Orang itu marah-marah. Ia protes pada malaikat. Kalau tidak boleh merokok, minum alkohol dan nge-sex, lantas kenapa ini disebut surga?”
” Hahaha….” Lusy tertawa sambil memukul hidungku.
” Aduh…sakit!”
” Sudah ah, pusing aku.”
” Memang bikin pusing.”
” Terus kalau tanpa ilusi, hidup itu seperti apa?”
” Lantas apakah cinta itu juga ilusi?”
” Gak tahu. Memangnya kita saling mencinta?” Tanyaku sambil tersenyum.
” Sialan kamu…”
Lusy melumat bibirku. Ilusi itu kembali membuat AC kamar hotel ini terasa mati.
Dan waktu pun berhenti.
Saat detik jam berdetak lagi, aku dan Lusy terdiam membisu. Kami menyalakan rokok dan tenggelam dalam liukan asap yang keluar dari mulut. Keheningan terasa begitu bising. Pikiran apa saja berlintasan. Sesuatu yang magis selalu muncul di tengah-tengahnya. Persis seperti musik DJ yang membuat hyped. Hanya saja tidak bersuara. Semesta seperti melayang tinggi, namun sekaligus turun membumi.
Lusy merebahkan kepalanya di dadaku. Tangannya menjentikkan abu rokok ke asbak yang aku pegang dengan tangan kiriku.
”Do we always smoke after sex?” suaranya lirih menyisip di keheningan itu.
“ Yup, ranjang selalu terasa berasap sesudahnya.”
Lusy tersenyum. Wajahnya nampak bersinar. Hmm, sebuah rona yang bahagia. Rona semacam itu selalu muncul mulai saat tubuh kami bersatu. Wajahnya menjadi sangat kenyal, halus, putih bersinar. Cantik sekali. Dan mencapai puncak kecantikannya saat orgasme. Hmm, bukankah semua wanita menjadi seribu kali lebih cantik saat orgasme?
” Dito, kamu belum jawab pertanyaanku tadi.” Lusy meletakkan puntung rokoknya di asbak, lantas mencium leherku. Aku cium kepalanya. Keringat di rambutnya menempel di hidungku. Hmm….harum sekali. Itulah ciri khas Lusy. Keringat tubuhnya wangi.
” Pertanyaan yang mana?”
” Apakah cinta itu ilusi?”
” Bisa jadi.”
” Pernahkah kamu benar-benar jatuh cinta?”
” Sering.”
” Dasar buaya.”
” Kalau kamu?”
” Benar-benar jatuh cinta, hingga kamu merasa tidak bisa hidup tanpa wanita itu?”
” Kalau seperti itu, belum pernah..”
” Aku sendiri tidak percaya yang namanya cinta. ”
Aku hanya tersenyum. Hampir semua wanita yang tidur denganku mengatakan itu. Dan Lusy hampir selalu menceritakan kisah yang sama setiap bertemu dengan aku.
” Sejak kecil aku terbiasa melihat ayahku selingkuh dengan banyak wanita, sementara ibuku adalah wanita yang setia. Walau tahu ayahku selingkuh, namun seakan ia menutup mata. Demi keutuhan keluarga, katanya. Huh… betapa lemahnya wanita! Walau begitu, aku menaruh hormat pada ibuku.”
Aku mematikan rokokku dan menaruh asbak ke meja di sebelah kiriku.
” Aku jadi dendam pada ayahku. Bagiku, semua laki-laki sama seperti ayahku. Suka menyakiti hati wanita. Makanya, aku tidak mau disakiti. Aku memiliki pacar lebih dari satu, supaya mereka tidak bisa menyakiti aku. Makanya, kamu jangan jatuh cinta padaku, karena aku tidak pernah mencintaimu.”
Aku tersenyum. Ada perasaan getir dan absurd.
” Kok tersenyum, bosan ya denger ceritaku?”
” Saat pertama kali aku bertemu kamu, aku bertanya apakah aku jatuh cinta padamu. Dan saat itu, setelah mendengar ceritamu, aku tidak juga mendapat jawabnya. Sampai saat ini pun, pertanyaanku masih sama, apakah aku jatuh cinta padamu.”
” Kenapa?”
” Karena cinta bukan hal yang penting bagi kamu dan aku saat ini, bukankah begitu?”
” Aku kadang berpikir, apakah luka yang aku dapat dari ayahku itu hanya merupakan alasan saja atas apa yang selalu aku lakukan pada laki-laki. Walau begitu, alasan atau pun bukan, itu tidak penting lagi. Aku melarang kamu jatuh cinta padaku karena aku bukan wanita yang setia seperti ibuku. Aku takut kalau kamu nanti sakit hati.”
” Apakah kamu mencintai aku?”
” Biarkan itu menjadi privasiku saja.”
” Kamu sendiri yang takut jatuh cinta padaku….”
” Yang jelas aku bahagia bersama kamu. Time flies and I really enjoy it.”
Kupeluk Lusy dan ia mencium pipiku. Ada perasaan damai. Apakah ini cinta? Ah, ini tidak penting lagi.
Lusy tertidur pulas di sampingku. Mataku sendiri sebenarnya sudah terasa berat. Namun entah kenapa pikiran ini terus berkecamuk. Kunyalakan sebatang rokok lagi, dan kupandangi langit di balik jendela. Singapura masih begitu genit menyalakan lampu-lampu kotanya. Di atasnya, bulan masih menggantung di langit Sei Jodo.
Aku bertemu Lusy di Manado setahun lalu. Kami menginap di hotel yang sama di samping Pantai Boulevard. Pagi itu, saat turun untuk sarapan, lift yang aku naiki berhenti di lantai 4. Pintu terbuka, dan mirip adegan slow motion, seorang wanita muda melangkah masuk ke lift.
Tiba-tiba saja kami berkenalan dan sarapan pagi itu terasa sangat indah.
Lusy adalah seorang perek kelas atas dari Jakarta yang terbiasa terbang ke sana kemari menemani kliennya. Para pelanggannya sungguh berkelas: pejabat, tokoh LSM, pengusaha sampai selebritis. Tarif Lusy sendiri adalah 10 juta per malam. Dengan tinggi badan 170 dan berat 50, ukuran bra 36 B, dan wajah yang imut, sungguh Lusy adalah impian bagi tiap lelaki normal. Lusy sendiri masih kuliah di Fakultas Hukum di sebuah universitas terkenal di Jakarta. Dengan pendapatan seperti itu, Lusy muncul sebagai wanita kaya di Jakarta. Tiap ke kampus dia bawa BMW. Ia jarang bergaul dengan teman-temannya, kecuali, tentu saja, saat mengerjakan tugas kelompok dan saat musim ujian. Hebatnya, Lusy memiliki IPK 3,5 dan saat ini ia sedang mengerjakan skripsi. Cita-citanya adalah menjadi pengacara. Tentu ia tidak akan kesulitan mencari klien nantinya.
Sejak pertemuan di Manado itu, ada sekitar enam kali aku melewatkan malam dengannya. Anehnya, tidak pernah di Jakarta. Kalau pun kami sama-sama di Jakarta, tidak pernah ada niatan dari kami untuk bertemu. Menelpon pun tidak pernah. Kami selalu tanpa sengaja bertemu di daerah. Aku menemui klienku, dan Lusy menemani kliennya. Setelah kliennya pulang ke Jakarta, ia menyempatkan menginap semalam lagi bersamaku. Seperti hari ini, klien Lusy, seorang pengacara tua dari Jakarta, pulang sore hari. Bandot tua itu memaksa Lusy ikut bersama, namun Lusy membuat alasan bahwa ia hendak ke Singapura belanja beberapa barang. Begitu selesai mengantar bandot itu di lobby hotel, Lusy segera naik dan masuk ke kamarku.
Begitulah, hubungan aku dan Lusy semata sex. Tepatnya, kami memang sengaja tidak mau diributkan oleh persoalan di luar itu. ” Ini namanya serendipity.” katanya saat bertemu kedua kalinya di Kuta, Bali. Kami merasa aneh saat bertemu untuk ketiga kalinya di Jayapura. Bagaimana mungkin setelah menempuh perjalanan pesawat 8 jam dan terpisah ribuan kilometer dari Jakarta, kami tanpa sengaja berpapasan saat berjalan di depan kantor Gubernur. Saat itu, kabut menyelimuti dua bukit yang bertemu di laut, dan sebuah kapal nampak masuk, seakan memasuki negeri para elf. Saat aku dan klienku menikmati pemandangan itu dengan takjub, Lusy berjalan bergandengan tangan dengan seorang lelaki yang merupakan tokoh LSM terkenal di Jakarta.
Saat bertemu untuk keempat kalinya tanpa sengaja, kami sudah merasa bahwa ini adalah takdir yang aneh. Entah apa yang hendak disampaikan oleh nasib kami ini.
” Jangan-jangan kita jodoh?” tanyaku saat bulan berada di ubun-ubun Pontianak.
” Jodoh di ranjang.”
” Beneran nih, nanti kalau kita bertemu yang kelima, itu berarti kita memang jodoh.”
” Kalau begitu, semoga kita tidak bertemu lagi.”
” Kamu takut jatuh cinta padaku?” sergahku. Lusy memerah wajahnya.
” Sudahlah, aku tidak mau membahas itu dan merusak suasana.”
Saat bertemu untuk kelima kalinya, persoalan jodoh kembali aku ungkapkan. Saat itu, keanehan tidak lagi kami rasakan. Seakan itulah suratan garis tangan kami dan begitulah adanya yang harus terjadi.
” Betulkan, kita adalah jodoh.”
Lusy menyalakan rokok dan membuka jendela. Angin malam dari puncak hotel di pinggir sungai Musi ia biarkan masuk dan membelai tubuhnya yang telanjang. Di atas sana, bulan menggantung di langit Palembang.
” Dito, kamu merasa nggak, ada sebuah pola yang aneh. Kita selalu bertemu saat bulan purnama. Lain kali, aku tidak akan mau diajak menemani tamu ke daerah kalau pas bulan purnama. Nanti pasti ketemu kamu.”
” Serendipity dan bulan….wah itu bisa jadi judul cerpen yang romantis.”
” Bulan purnama bisa menarik air laut jadi pasang, apalagi manusia yang sebagian besar tubuhnya berupa air. Makanya ada istilah lunatic. Bulan purnama bisa membuat manusia menjadi ’gila’ ”
” Tapi itu tidak menjawab pertanyaanku, yakni apakah kita memang jodoh?”
” Tidak penting kan?”
” Maksudmu?”
” Kalau pertanyaan itu tetap kita biarkan menjadi pertanyaan tanpa jawaban, kita toh tidak akan mati.”
Aku terdiam. Seringkali, banyak hal yang terjadi dan kita tak sempat bertanya. Toh begitu, ada banyak hal yang memang tidak perlu ditanya atau pun dijawab.
” Aku setuju. Biarkan serendipity ini terjadi. Apakah ini berkah atau kutukan, biar waktu yang jawab.”
***
Kuhela nafas panjang. Sering aku bertanya pada diriku apa yang sebenarnya kamu cari Dito? Dan selalu pula pertanyaan filosofis ini hilang begitu saja tanpa jawab. Rasanya tidak pernah cukup waktu untuk menjawab pertanyaan itu. Kulihat jam di meja sudah menunjukkan pukul 3.30. Namun kantuk belum juga hinggap di kepalaku. Sementara Lusy sudah mendengkur pelan. Lucu juga mendapati cewek secantik dan sesexy itu tidur mendengkur.
Aku merebahkan diri di samping Lusy. Sejenak membayangkan apa yang akan terjadi pagi ini. Jam 8 Mr. Rory sudah menungguku di ruang makan. Tugas seabrek-abrek pasti sudah disiapkan. Aku harus mengantar bule ini ke beberapa narasumber yang berkaitan dengan perbatasan. Apa yang sebenarnya hendak ia tulis? Penyelundupan? Semua orang sudah tahu tentang hal ini. Apanya yang menarik kalau semua orang sudah tahu? Entahlah, yang jelas tugasku sebagai interpreter adalah mengantar bule itu dan menjadi penerjemahnya.
Membayangkan kerja dengan bule itu membuat perutku mules. Dari tempat tidur ini, aku melihat kartu namaku tergeletak di sebelah tas Lusy. Benedictus Andito – Freelance interpreter. Kartu nama yang aku cetak di Jatinegara itu rupanya cukup membawa hoki. Aku membayangkan kata ”Freelance Interpreter” akan berubah menjadi ”Indonesian Correspondence” dan di atas namaku ada kop berjudul Moment of Truth Weekly Magazine.
Ah… andai saja.
Dari kejauhan, terdengar suara Adzan Subuh. Wah… lonceng biologis untuk tidur sudah berdentang. Aku peluk Lucy dari belakang dan kubenamkan wajahku pada tengkuknya.

You and Lucy are phenomena yang sudah menjadi rahasia umum. Namun tidak bisakah bila di akhir cerita kalian menyadari untuk menyatu hingga maut yang hanya dapat memisahkan kalian. Mengingat gambaran hubungan yang rentan dengan virus sosial terlebih kesehatan, atau ini adalah pilihan hidup kalian. Atau anda sebagai lelaki yang menyetujui lucy adalah wanita teman malam, namun Lucy bukan teman hidup. Atau anda yang prefer pada fantasi dari pada kehidupan nyata dunia???
24 mei 2008, Dengan pesawat andalan nasional Lucy kembali menjejakkan kakinya di Jakarta setelah 3 hari menemui salah satu kliennya di pulau Hoga. Ia bergegas menuju arena parkir tempat Yarisnya menginap selama 3 kali 24 jam. begitu duduk dalam mobilnya segera dihempaskannya gardigan yang dipakainya ke jok belakang. TankTop yang dikenakannya menyisakan kulit halus yang memerah terbakar oleh matahari kepulauan pande besi yang terik. Kunci kontak diputarnya lalu rem tangan dibebaskan menyusul gas tanpa kopling, automatically mobil melaju. Sampai di rumah hasil kerjanya, seorang pembantu menyambutnya dengan ramah.
“Mba sudah pulang”
“ Bukan Ti aku baru dari pergi”
“Mba bisa aja”
“Ada kabar apa ni?”
“Iya, kemarin sama tadi ibu mba nelpon”
“Kamu bilang apa?”
“Ya seperti pesan mba, mba ada urusan ke luar kota. Tapi ada pesan juga dari ibu mba. Katanya kalau sempat mba pulang ke rumah karena adik mba Lena mau nikah.”
Lucy yang tengah duduk santai kaget.
“Lena nikah, masih kecil udah mau nikah. Ini pasti ada apa-apa!”
“Nggak koq mba!”
“E…Siti ikut-ikutan. Emang tau Lena nikah kenapa”
“Iya mba, ibu mba yang bilang. Katanya mba jangan khawatir karena nikahnya baik-baik koq! Pacar mba Lena maunya diresmiin aja karena udah lama pacarannya, lagian kerjanya udah bisa diandalin, gitu kata ibu mba!”
“O…ya udah! Aku ikut senang! Aku mandi dulu Ti, gerah ni!”
Lucy melangkah ke kamarnya. Pikirannya melayang pada adiknya Lena. Betapa beruntungnya dia mendapatkan lamaran dari orang yang mencintai dan menginginkannya. Tahun ini Lena 22 sedang Lucy sendiri 24. Lucy sadar ia lebih mempunyai penampilan putri Indonesia dibanding Lena adiknya. Tapi Lena lebih beruntung. Lena tidak merasakan sakit seperti dirinya, sakit karena ayah yang sakit pada wanita. Lena begitu manis, sama seperti ibunya yang selalu manis pada ayahnya yang sakit. Tapi kalau ia ingin ia pun bisa. Hanya sekali menelphon orang yang ia ingini seketika itu juga ia bisa dinikahi. Tapi dengan status apa? Istri keberapa? Istri apa? Lalu bagaimana dengan cinta?
Pikiran Lucy beberapa saat berkecamuk. Entah apa yang diingininya sekarang. Bayangan kebahagiaan Lena adiknya menari-nari. Ah… betapa manisnya Lena dengan baju pengantin putihnya. Suaminya memegang tangannya dengan hati-hati, Lena nampak suci bagi suaminya. Sedang ia sendiri, entah sudah berapa banyak tangan yang menggandeng tangannya, menyentuh badannya, menubuhinya. Masih terlihat sucikah, atau paling tidak agak nampak suci?
Kegelisahan yang berkecamuk membuat ia ingin merokok. Ditariknya tas dari atas meja riasnya, ada secarik kartu nama yang jatuh. “Dito.” Desah Lucy begitu membaca nama yang tertera. Terlintas seketika wajah Dito. Wajah familiar dalam 7 kali pertemuan. Entah magnet apa yang membawa Lucy untuk selalu “standing for 1 night” dengannya, tanpa beban, tanpa sakit, seperti air mengalir. Dengan Dito, Lucy seperti dalam Alice in wonder land. Dunia damai dan penuh hasrat. “Bisakah dalam kegelisahan ini aku bersama Dito,” harap Lucy. Serendipity terjadilah kembali!
Sabtu sore, 24 Mei 2008, Dito bergegas memasuki jalan ke arah rumahnya. Suara dari atap-atap rumah yang lamat-lamat mengeras menandai hujan akan segera menderas dalam hitungan detik.
Tiba di teras rumah samar terdengar suara ramah ibunya yang berbicara entah pada siapa. Begitu masuk ke dalam taulah dia siapa teman ibunya ngobrol.
“Eh Dit, baru pulang. Sini ibu kenalin sama Wulan!”
Dito menghampiri ibunya, diasungkan tangannya pada wanita muda di depannya.
“Dito”
Wulan mengangsungkan tangannya pula.
“Wulan”
“Ya udah bu, Dito masuk. Silakan ngobrol lagi!” Segera Dito masuk ke kamarnya.
Waduh, ibu kumat lagi. Apa dia nggak kapok setelah hampir dua bulan yang lalu aku menghancurkan rencananya mendekatkan aku dengan Dewi. Ibu menyuruh aku mengantarkan Dewi pulang dengan motor, tapi begitu sampai di jalan besar Dewi kusuruh turun, kupanggil taksi dan kukatakan pada Dewi lebih baik ia pulang dengan taksi karena mendung sudah menebal, takut kalau nanti terkena hujan. Dewi yang bingung hanya menurut. Kubukakan pintu taksi dan kuberi seratus ribu pada si supir. “Tolong antar mba ini ke alamatnya ya pak!,” pesanku pada si supir. Segera setelah itu kutancap gas motorku ke tempat lain. Tiga hari setelah kejadian itu ibu marah padaku. Aku hanya tersenyum mendengarkan nasehatnya. Dan kini ibu mulai lagi.
Sudah tiga kali ibu memperkenalkan aku dengan wanita. Semua baik, santun, cantik pula. Entah darimana ibu mengenal mereka, entah dengan cara apa ibu mengajak mereka ke rumah ini. Alasan apa yang membuat ibu berlaku demikian.Mungkin ibu takut aku tidak mempunyai pasangan nanti atau ibu sudah bosan mengurusku, tapi ini sudah zaman kuda masuk mall bukan zaman kuda gigit roti apalagi gigit besi. Aku laki-laki dewasa yang sehat dan waras. Tapi sekian protes yang kukatakan tetap tidak mempengaruhi ibu.
Terbesit seketika bila suatu hari ibu membawa seorang wanita lagi dan ternyata itu adalah orang yang kukenal. Mungkin Lucy! Pikiran itu muncul seperti gambar bola lampu yang tiba-tiba menyala ketika tokoh kartun mendapatkan ide.Lucy, apa yang sedang dilakukannya saat ini, menemui kliennyakah? Perasaan aneh menjalariku seketika. Banyak wanita yang sudah kukenal, banyak juga yang telah bertukar cairan denganku. Tapi dalam pikiranku Lucy unik seunik pertemuan-pertemuan kami. Ingat ibu yang selalu menjodoh-jodohkanku, aku bertanya; apa Lucy jodohku? Mengingat kesepahaman kami pada arti hubungan kami yang tidak berdasar dan mengikat. Mungkin di situ magnet antara aku dan Lucy. Tapi bisakah aku berkomitmen perasaan cinta dan tanggung jawab pada seseorang untuk seumur hidupku atas nama Tuhan yang juga maha membolak-balikan hati manusia? Mungkin aku harus mencoba. Coba? Coba mempermainkan komitmen atas nama Tuhan? Tidak! Berusaha adalah kata yang pantas.
Kembali mengingat usaha ibu, kembali aku berimaginasi bila wanita yang diperkenalnya itu adalah Lucy! It’s serendipity.
Tidak sedikitpun yang bisa kumengerti, kupukir kamu yang lebih banyak mengerti tentangku
Serendipity,
Someday, somehow, somewhere
i see u when i see u
You saw me
I saw you
TODAY
Somewhere over the rainbow
Skies are blue
And the dreams that you dare to dream
Really do come true
Some day I’ll wish upon a star
And wake up where the clouds are far behind me
Where troubles melt like lemondrops
Away above the chimney tops
That’s where you’ll find me
i want to see u n touch u’r heart.
but,
i don’t know who u’re
24 jam sehari kenapa bisa tidak cukup,
Dewa dan Lusya masih harus mengalah untuk lainnya.
Saya harap anda belum lelah jika ini suatu saat akan sedikit menyita waktu anda.
Purnama tidak datang setiap hari,
dan suatu hari nanti, satu purnama akan menukar puluhan purnama yang terlewatkan, dan apakah kita akan sejahat itu pada Dewa dan Lusya, hanya goresan saya dan ilusi anda yang menentukan.
Jadi, bertahanlah dengan seluruh imajinasi anda.
hari ini,,masih sama,tidak ada yang bisa kubedakan
setauku,,cinta dan memiliki itu tidaklah sama
hanya saja,,masih menjadi luka saat itu tidak lagi beriringan
tidak ada yang berubah sampai hari ini
apa yang terasa sekarang?
Tak ada sesuatu di dunia ini yang lebih suci dan lebih mempunyai kekuatan selain kesedihan. Tapi apakah mencintai kesedihan yang melilit hidup dapat membawa kita mencapai kematangan dan kedewasaan?
dewasa dan matang
apakah itu?
menurut siapa?
matang dan dewasa menurut dia, kamu, atau mereka?
egois sekali
namun benar
semua yang terasa perih adalah
sayatan kekuatan terdahsyat yang dimiliki manusia
terlebih yang dihadirkan oleh sesuatu yang tidak pernah memberi kesempatan pada kita untuk mengasah senjata dan menobati luka
Matahari perlahan bergulir, mengakhiri kunjungan para marketer’s itu menjauh dari monumen tragedy 12 Oktober 2002 di Legian, Bali.
Wanita berambut ikal sebahu lengkap dengan stiletto hitam sepuluh senti, pencil skirt hitam, dan blus lengan panjang orange segar berleher V tampak berada di tengah rombongan, masih mengenakan kalung bunga kamboja yang diberikan panitia. Wajahnya yang letih, sedikit terbantu oleh kacamata berwarna maroon, bertengger menutupi matanya dari sengatan matahari.
“Mbak, kita langsung ke seminar di Ramayana hotel atau bertemu Mr.Joe lebih dulu?” Suara Mita, koordinator penjualan perusahaan merangkap sekeretarisku bila sedang ada kunjungan luar ini membuyarkan lamunanku.
“Joe bukannnya nanti malam baru akan datang dari Malaysia?”, jawabku.
“Mbak Lusya ini gimana, bukannya tadi Mbak sendiri yang memberi tahu saya kalau Mr.Joe datang siang ini dan mengajak Mbak ke Tanah Lot untuk break romantic sunset.” Mita mengerling.
“Damn, untung kamu ingetin saya Mit. Kalo gitu kamu hadiri seminar di Ramayana dengan Pak Winarya dan Mas Fredy aja ya Mit, dan beri tahu Joe untuk menemui saya nanti malam jam delapan di coffee shop hotel kita.”
“Baik Mbak.”
“Mas fredy suruh bawa Terranonya saja,” Aku menambahkan.
“Lalu mbak Lusya? Kami ikut rombongan saja dengan kendaraan panitia Mbak. Biar Mbak bisa langsung istirahat. Kelihatannya Mbak capek banget, lagi ‘rendah’ ya Mbak?’’ Mita menjetikkan kedua jarinya saat menyebut kata ‘rendah’. Peyakit anemiaku ini tidak kenal kompromi.
“Bukan Mit, hanya pengen istirahat aja sekalian kirim laporan ke Bu Arlin, Dua hari di Bali saya belum sempat buka email Mit. Kalian bawa aja Terranonya, turunkan saya di hotel.”
“Mbak Lusya kalo kemana-mana gimana?”
“Kan kemarin mas Wayan meninggalkan mobilnya di hotel untuk kita pakai selama di Bali.”
“Hehehe,iyaya Mbak, saya lupa.”
Mita membukakan pintu mobil, dan aku terduduk dengan muka sangat kelelahan di jok belakang mobil hitam itu., Fredy, rekanku satu holding itu duduk dibelakang kemudi dan hanya menyapaku sekilas. Mita sudah sibuk dengan dengan telepon genggamnya, menghubungi Joe. Winarya yang sudah lebih dulu duduk di sebelahku terus menatapku. Aku tau dia bertanya-tanya keadaanku yang tidak biasanya terlihat kusut saat kunjungan.
“Are you fine Sya?” Tanya Winarya saat mobil meluncur menuju Santika, tempat kami menginap.
“Sure, I’m well.” Jawabku singkat seraya melepaskan kacamata kesayanganku.
“Kamu ikut seminar sore ini kan?”
“Nggak Mas, aku langsung ke hotel, cek email dan sekalian kirim laporan ke Bu Arlin. Belum lagi nanti malam harus ketemu dengan Joe. Dia datang dari Malaysia siang tadi.”
“Joe..? U mean, Joe IT, Chinese Thai??? Sya…”
“Don’t talk to me like that. Please, this isn’t time to argue!” Aku memotong pertanyaan Winarya, terlalu lelah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hanya aku dan Winarya yang tau. Pertanyaan yang jika Mita ataupun Fredy tau jawabannya, maka akan menjadi skandal.
Lusyafitri Magdalena, gadis Jawa-Belanda dua puluh tujuh tahun, Head of Marketing & Public Relation yang membawahi beberapa resort dan hotel di Indonesia, penggila Japanesse Food, menyukai tratvelling, dan tidak salah bila Dewa menyebutnya ‘Asian Perek’. Iya, wanita itu adalah Lucy, pelacur jetset yang kliennya tersebar di Asia. Baru setahun ini ia memutuskan untuk meninggalkan dunia penuh dengan gemerlap itu, dan focus pada holding hotel, resort dan park, usaha milik Alex, kliennya yang tinggal di Hongkong.
Dan Winarya, adalah sekian dari para lelaki itu, yang kemudian jatuh cinta pada Lusya. Winarya, pria beranak tiga yang istrinya juga kenal baik dengan Lusya, seorang Marketing Manager sebuah perusahaan pemerintahan relasi Lusya.
“Mbak, nanti sepulang dari seminar saya langsung ke Centro ya. Biar mobilnya di bawa Mas Fredy.” Mita mengantarku sampai di depan pintu kamar hotel.
“Ok Mit, lalu pulangnya kamu gimana?”
“Saya nanti sekalian sama temen-temen provider Mbak.”
“Kamu jangan kecapekan lho Mit, jadwal kita masih dua hari lagi di Bali. Kalau sempat tolong belikan saya Chesee Roll Bread Talk ya Mit. Ada di Centro lantai satu.”
“Siap Mbak! Frappucinonya?” tanya Mita ceria. Aku tidak tahu darimana anak ini mendapatkan energi setelah seharian berkunjung kesana kemari.
“Gak usah Mit, Frappucino kok nitip, yang mahal itu nongkrongnya.”
“Hahaha, benar Mbak.”
Kurebahkan diri kedalam bathup yang sudah kupenuhi air hangat. Ophium bercampur air yang kubakar di sudut kamar mandi turut menemani penatku sore ini.
“Syafitri, Ibu sakit.”
Telepon dari Diajeng, kakak perempuanku yang mengabdikan hidupnya untuk mengajar di sebuah perguruan tinggi di Jogyakarta, terus memenuhi rongga pikiranku. Ibu yang tinggal di Malang dengan dua orang keponakanku kuliah di Unibraw dan seorang pembantu, saat ini sedang terbaring di rumah sakit. Radian, kakakku, seorang banker di sebuah bank asing, sudah berada di Malang. Radian bilang kalo aku bisa menyelesaikan dulu pekerjaanku di Bali yang tinggal dua hari lagi.
Ibu, sejak sepuluh tahun yang lalu sendiri dan tetap menjaga cintanya dengan almarhum Ayah. Seperti pada umumnya orang tua, keras kepala. Ibu tidak pernah mau kuajak tinggal di Jakarta, ataupun ikut salah satu kakakku. Kekeuh bertahan di Malang, “Biar dekat Ayahmu nduk.” Selalu itu yang beliau katakan.
“Bu, gimana kondisinya?” Kutelepon Ibu sambil menghirup aroma ophium.
“Hanya lemas aja kok nduk, besok juga sudah boleh pulang. Kamu di Bali sehat nduk?”
Itulah Ibu, disaat terbaring di rumah sakitpun yang beliau pikirkan orang lain.
“Syafitri sehat Bu.Lusa Syafitri mampir Malang dulu sebelum ke Jakarta.”
“Iya, semoga kamu datang Ibu sudah boleh pulang. Kamu pulang sama siapa Cah ayu.”
“Sendiri Bu. Ibu nitip apa?”
“Nggak usah bawa apa-apa Nduk. Kapan kamu itu pulang sama calon suamimu, biar kamu nggak sendirian. Rahma sahabatmu SMP sudah lamaran lho tiga hari yang lalu.”
I don’t want it more!
Tiba-tiba terserang motion sickness. Gampang sebenarnya tinggal memuntahkan semua di kloset, guyur habis, gosok gigi dan merebahkan diri dalam selimut tebal, tidur. Perfect!
“Iya ibu doakan aja ya Bu. Sudah dulu ya Bu, syafitri harus mandi. Udah lengket semua ni. Ibu istirahat ya.” Telepon ini harus segera kuakhiri sebelum kami bertengkar. Selalu, bila Ibu mulai membicarakan suami, pernikahan, yang jujur membuatku kurang nyaman pulang ke rumah.
“Iya Nduk, jangan telat makan.”
Klik
Kupejamkan mata, membenamkan diri dalam air.
Keluargaku tidak tahu siapa Lucy, begitu juga teman-temanku. Hanya para lelaki pemakai jasaku yang mengenal Lucy. Lucy yang tidak menyukai wine, Lucy yang selalu menghabiskan sebatang rokok setiap selesai bercinta dengan kliennya. “Membuang racun.”,itu yang selalu Lucy katakan.
Sejam lagi Joe datang. Lusya tidak sadar berapa lama tertidur di kamar mandi, hingga airnya terasa dingin. Masih mengenakan handuk, meraih terusan gading selutut dengan punggung terbuka dan lekuk sederhana pada bagian bawah menjadi pilihan yang diambil Lusya dari almari pakaiannya. Lalu sibuk mengeringkan rambut sebahu miliknya yang berwarna burgundy.
To. Rahma Aripartan (08155523XXX)
Allow Ma,pha kabar jheunk kemana aja. Masih banker kan? Kata Ibu, habis lamaran ya, kok lu gak crita sih.
Sambil kukirimkan sms pada Rahma, sahabatku sejak SMP.
Tiiit!Tiiit
From. Rahma Aripartan (08155523XXX)
Lu itu yang kemana aja. Perasaan mobile terus deh Lu tuh. Iya, gue habis dilamar sesama banker bo’. Satu kantor. Resign akhirnya!
Sms balasan Rahma masuk ke inboxku.
Reply To. Rahma Aripartan (08155523XXX)
Gak seru ah, masak Lu bangun karir dari nol sampai jadi Credit koord. Supervisor, Lu lepas gitu aja. Lu sih cari suami kok sekantor. Mana aturan bank kan dilarang kawin sekantor gitu.
Tiit!Tiiit!
From. Rahma Aripartan (08155523XXX)
Gimana lagi Jheunk, udah cinta mentok gini. Lagian gue kan bisa urus butik aja, secara suami gue manajer, masak iya gue yang minta dia resign. Lu gimana Sya, udah nemu?
Males melanjutkan pembicaraan. I think better discuss about her, not about me!
Reply To. Rahma Aripartan (08155523XXX)
Doain aja Ma. Hari gini belum mikir, xixixi. Eh gue ada tamu ni, ntar disambung lagi ya. Lusa gue ke Malang. Bakso bakar, Ok?
Tiiit!Tiiit!
From. Rahma Aripartan (08155523XXX)
Gue lagi pelatihan di Jakarta sampe akir bulan Sya. Ketemu di Jakarta aja ya. Bantu gue cari WO! Ok dear, take care.
God, executive suite yang kutempati ini terasa sesak, makin menyempit. Setiap peertanyaan tentangku menyangkut pernikahan, kurasakan sebagai kutukan. Dan cinta… Rahma, sahabatku rela menanggalkan jabatan yang tiga tahun lalu dia mulai dari nol, demi sebuah cinta. Aku tidak tahu menanggalkan cintaku dimana, apakah pada Joe, pria yang kata Mita crazy handsome, Wayan, dokter matang yang memberikan segalanya buatku, Nuransyah yang memintaku menjadi istri keduanya, Irvian sang public figure atau salah satu dari puluhan pria yang pernah mencicipi tubuhku, atau… Dewa Criztan, sastrawan yang bekerja di sebuah instansi beken itu? Tiba-tiba pria tiga puluh lima tahun itu melintas di benakku. Di mana dia sekarang, sembilan bulan aku tidak bertemu dengannya. Atau mungkin karena aku tidak lagi menerima klien saat purnama. Kami selalu bertemu tidak sengaja saat purnama, saat aku dalam pelukan laki-laki lain. Hanya dengan Dewa kuberikan free service.
Tanganku memencet sebuah nama, Free of Charge, dari ponselku.
To. Free Of Charge (08592177XXX)
Stop smoking. R U ok?. I’m in Bali. U?
Senyap, tidak ada respon. Kutatap hamparan laut yang terlihat suram dari balkon kamarku. Dewa entah apa yang terjadi dengan kami, pertemuan terakhir sembilan bulan lalu menyimpan tanya yang begitu besar.
Masih yang tidak saya mengerti:
Kenapa Lusya tidak minum wine, sementara white wine mengandung anti oxidant, baik di minum segelas sehari. Wine toch berkelas, dibanding mengkonsumsi jenis bear yang berkalori tinggi dan membuat kadar gula darah naik.
Kenapa nama harus Dewa Criztan, sementara Criztaneum adalah nama panjang dari bunga crizan. Kalo nama yang dipakai “Dewa Tristan” saya setuju karena itu adalah nama salah satu dewa Yunani kuno.
Lusya tidak minum wine,,bkn krn apa2,,hanya,,tidak menyukai aromanya. Dan Dewa,,,criztan, saya pikir tidak perlu saya jelaskan kepanjangan CRIZTAN, sudah tentu ini tentang seseorang. Dewa mendapatkan nama itu dari mendiang ayahnya,,,CRIZ-TAN.
terimakasih,,lanjutannya mohon saran kembali.
Tristan, iya, saya sedikit tau tentang nama itu. pergulatan nama Dewa Criztan adalah,,saya menyukai nama Dewa, dan saya menginginkan nama Criz untuk ini, so,,nama ini yang muncul..
Bahkan ujungnyapun,,anda tau?? saya tidak tau
Dubrak… Ada perek gak minum? IMPOSSIBLE.
Sebelum manusia belajar membaca, manusia mengenal makanan. Dan takdir the best peramu makanan adalah perempuan. So, siapa yang biasanya memilih menu di setiap meeting, bukannya sekretaris yang berkelamin F. Terlebih PR, PR adalah iklan berjalan, dia harus supel, harus tau menempatkan diri. Aroma wine ada bermacam-macam tergantung jenis dan lama penyimpanannya, makin lama waktu penyimpanannya, makin tinggi kualitasnya. Aroma di jamin sweet. Tapi kalo gak suka wine ada red cherry, long island, copacabana. Laki-laki gak bakalan senang kalo menikmati wine tanpa teman, terlebih di sebelahnya ada perempuan cantik. Perempuan seperti Lusya tau itu, kalo tidak mau reputasinya sebagai penyenang laki-laki surut dan tender proyeknya berlalu begitu saja.
Saya hanya pengeritik iseng yang kebetulan tergelitik pada karya anda. Ujung cerita untuk anda saja, karena anda yang memulai maka anda yang lebih mengetahui akhirnya.
hahahaha,,,,,baru ini tertawa membaca ini. anda benar, Lusya sedang tidak tau apa dan bagaimana. Baiklah,,, kita lihat akan berujung pada apa dan siapa. yang membuat saya sedikit bingung, ini tentang Lusya atau anda sebagai laki-laki? Mungkin Lusya tidak sedang menjual tubuhnya, tapi menjual hatinya, menjual cintanya, entah. Coba nanti saya telusuri apa di bawah alam bawah sadar Lusya. Bukan sayang yang memulai, anda tau lebih dari saya, Lusya, atau bahkan Dewa.
Hebat! Ada yang jualan cinta. Merek apa? Apa terdaftar di kantor perindustrian? Ada tanggal EXPnya juga?
Dimana-mana bumerang selalu kembali ke pemiliknya, kecuali Frisbee.
bumerang selalu kembali ke pemiliknya?
milik siapa?
ada yang merasa memiliki?
ih,,
Bumerang simbol utk ceritanya. Ah, dmn2 interpretasi simbol berbeda-beda, but I like that, make me different such a KANT (saya berpikir maka saya ada) he..he..:-) BTW, ke Tepian or Citra Niaga or dua2nya?
Lucy terbangun dengan kepala yang berat. Memory dengan salah satu ketua LSM Samarinda semalam seperti biasa dapat atasinya. Dua gelas white wine “soft, mild, sweet”, telah membutakan nyali dan menghilangkan nervous untuk mengakhiri kencan dan meresmikan kerjasama mereka di suite room hotel. Tadinya seorang klien menawarinya untuk menangani penyelenggaraan Seminar Internasional Devolusi Pengelolaan Hutan, namun karena komisi yang diminta double (cash and care (of passion)). Akhirnya Lucy memilih melakukan pendekatan langsung pada sasaran dan berhasil.
Tapi pagi ini efek wine masih bersarang di kepalanya.
Semalam dua gelas untuk memudahkan menyatukan pikiran dan hati kalau ini adalah biasa, sebiasanya orang makan dan minum sekaligus lupa kalau sudah makan atau minum. Dan obat mujarab penghilangkan kepekaan klitoris kewanitaannya, karena semua sama saja akhirnya; semu dan hampa.
Lucy memasuki kamar mandi. Diaturnya water heater, dirasakan suhunya dari kran. Begitu sesuai, di putarnya kran shower. Aliran hangat menyentuh kepalanya. Menjadikan rambutnya basah, muka basah, mata yang basah yang terasa lebih hangat dari air shower, pipi yang merasakan pula kelebihan hangat itu dan semua menjadi satu rasa; asin, yang diyakini oleh aliran yang mampir pada lidah. Dirasakannya pula kewanitaannya perih. Terlebih pada luka demi luka yang diciptakannya, terasa perih. Untuk semua luka dan keperihan itu Lucy menggosok-gosokkan semua lipatan tubuhnya, agar sembuh dan hilang. Sabun mandi cair exclusive lengkap dengan tcc irgasan, moisturize, dan aroma therapy digosokkan pada tubuhnya, menghasilkan ruahan gelembung busa. Hangat air shower kembali mengalir, Lucy larut dalam mandi besarnya.
Keburaman masih terasa dalam kepalanya, Lucy memakai kaos oblong dan celana longgar. Ia menyeduh teh Camomile. Dihirupnya sesaat baru kemudian diseruputnya teh yang kabarnya memiliki khasiat sebagai analgesic, sehingga dapat digunakan untuk mengurangi rasa sakit kepala karena efek wine yang enggan pergi. Selain itu teh ini berkhasiat sebagai antispasmodic katanya, yaitu obat untuk mengendurkan otot yang mengalami konstraksi, sebagai relaksasi dan obat penghantar tidur tanpa efek samping.
“Aku sudah melakoni suatu peran yang sebenarnya tidak perlu aku jalankan.” Tapi dunia adalah panggung sandiwara. Terserah mau memerankan apa. Protogonis, antagonis, penengah, atau badut.
Protogonis. Mungkin sekumpulan orang yang selalu ingin melakukan hal-hal yang benar, atau mungkin orang-orang yang selalu ingin dianggap sebagai seorang tokoh yang teguh memegang norma. Mereka tidak pernah menantang arus, mungkin mencari aman. Kalau mencari aman, mereka mungkin dapat dikatakan sebagai pengecut.
Antagonis. Sekumpulan orang yang mempunyai pikiran kiri, berani terlihat kotor dan jelek. Cenderung egois membela haknya. Mereka pendukung kemerdekaan individu sejati. Kejujuran mereka pada pengeksploitasian jati diri terlihat kejam.
Badut atau pelawak mungkin adalah sosok yang lebih mengerti dan menikmati kehidupan. Mereka sadar kalo Tuhan membentuk kita tidaklah langsung menyenangkan, ada sakit, penuh penderitaan, dan banyak air mata. Karena itu adalah cara Tuhan untuk mengubah kita supaya menjadi lebih menerima hidup dan memancarkan kemuliaan. Maka badut-badut pun menertawakan luka-luka mereka dan orang sekeliling, mencoba menghibur bahwa masalah hidup adalah lelucon yang paling lucu jika tidak bisa diterima oleh akal.
Dan aku “pelacur”. Apakah itu? Antagonis karena menjadikan laki-laki sebagai objekku. Protogonis karena membalaskan sakit ibuku. Atau badut yang menghibur mereka yang kesepian.
Atau apakah aku?
Mungkin aku adalah tubuh tanpa jiwa, dimana semua rasa adalah sama. Padahal hidup memiliki takdir pahit, getir, manis, pedas, panas dan dingin. Mungkin karena aku memilih hidup dengan cara ini. Setiap hari kubuat luka dan setiap hari pula kugarami luka ini sendiri dengan kesemuan dan kehampaan.
Seketika Lucy lirih berucap, “Tuhan, kapankah luka ini sembuh dan perih ini hilang?”
Fiuhhss..
menggigit, terasa
kapan? sekarang,besok,lusa, kapanpun
Pukul 2.00 dini hari Dito terjaga dari tidur. Peluh membasahi tubuhnya, seakan ia baru saja melakukan lari sprint yang menguras kecepatan kekuatan otot-otot kakinya. Segera ia bangkit menuju pantry kecil di sudut apartemen, mencari air putih dari kotak pendingin, peluh telah membuatnya merasa dehidrasi seketika. Satu botol air putih diteguknya tanpa jeda. “Ha…” serunya pelan setelah merasa tegukan air membuat tenggorokannya basah. Tapi selesai itu juga ia merasa ada yang mengganjal, sesuatu yang membuatnya merasa perlu untuk dilampiaskannya. Bersandar pada sofa yang memblakangi jendela, disulutnya sebatang rokok dengan harapan ganjalan itu bisa hilang. Tarian asap berlari pada jendela yang terbuka mengikuti arah perginya angin malam yang berhembus. Begitu dinginnya udara musim ini. Tapi Dito merasakan hal yang berlawanan, tubuhnya seperti terserang demam, kepalanya terasa hendak melayang dan semua yang ada dibenaknya terasa membara. Belum setengah batang Dito menyundutkan rokoknya pada asbak dan bangkit dari duduk. Jendela yang memblakanginya dibukanya lebar-lebar. Ia berdiri tegap memandang ke arah luar seakan menantang malam, ia lalu berteriak sembari memegang kepalanya “Heiiii….”. Dan kepalanya memang terasa akan pecah. Ternyata seratus satu kesibukan yang dijejalkan setiap hari, berfile-file dokumen yang harus dikerjakan tanpa mengenal tenggat waktu ternyata tidak juga menghilangkan naluri alamiahnya. Ia harus mengalami malam-malam yang sulit dimana selimut linen ataupun woll tidak bisa lagi menyamankan tidurnya. God! What should gonna do? Tidak juga liquer semahal apapun dapat menjinakkan sang gelora. Godaan-godaan ilusi liar telah membenamkan otak dan pikirannya untuk memenuhi hasrat terpendamnya dan itu telah dilaluinya dengan cara yang kuno, cara yang canggih dengan bercyberseks hingga dengan cara yang konyol sekalipun. Ia sendiri sudah merasa malu pada diri sendiri, jenuh dan bosan, lagi pula itu tidak menyeluruh hanya sebatas mengeluarkan yang memang harus dikeluarkan agar kembali normal.
Dan malam ini tuntutan biologis itu begitu mendera. Semua terasa menuju satu arah yaitu kegilaan. Haruskah sifat barbarian diberlakukan secara syah untuk mengatas namakan kebutuhan ini. Lalu dimanakah bedanya manusia dan binatang? Dito masih berdiri di muka jendela menantang malam yang tanpa bulan maupun bintang. Alam demikian gelap, sama gelap dengan kabut di kepalanya yang sejak tadi ia pegangi dan kini diayun-ayunkannya sembari menahan geram yang membuncah-buncah perasaan. “Aaarrrgggghhhh….” Dito berteriak sekuatnya, tak diperdulikannya lagi teguran, marah, cacian yang mungkin akan diperolehnya dari tetangga apartement. Tapi tak ada juga sahutan-sahutan keberatan itu. Adanya tetap sepi dan dingin yang menambah kekalutannya. “Ha…!” , serunya sambil berjalan tergesa-gesa ke arah pintu. Dipertengahan lorong apartemen yang sepi dan dingin di tekannya tombol lift turun dari keberadaannya di lantai 8 menuju lantai 3. Sendiri di malam ini pada apartemen Slipi yang sepi ia melangkahkan kakinya ke arah kiri dari pintu lift. Di dorongnya pintu kaca menuju kolam renang sembari membuka kaosnya tergesa. Perduli setan dan iblis jenis apa yang bergentayangan malam ini Dito sudah tidak perduli. Dia melucuti semua pakaiannya dan melemparkannya pada bangku taman. Byurrr… ia menceburkan dirinya yang polos sepolos ia dilahirkan dalam air kolam yang dingin. Kepalanya yang hendak pecah dibenamkannya lama dalam air hingga hampir tak bernafas. Begitu terasa sesak ia membiarkan dirinya mengambang, membiarkan perasaannya hanyut dalam pelukan air kolam yang dingin, membiarkan riak air mencumbui tubuhnya dan angin membelai-belai wajahnya. 1/2 jam lewat dan ia masih dalam kolam yang dingin. Perlahan tangannya mengasihani tubuhnya sendiri, jemarinya mengusap lembut dari wajah, tubuh dan kembali tangan dengan indera perabanya yang telah membuat ia masyuk menuntunnya untuk mempermainkan permainan yang kuno dan sangat rahasia, dimana hanya dia dan alam laki-lakinya saja yang mengerti bagaimana mengakhiri malam yang gelap dan dingin ini. Dan Dito mengakhiri permainannya dalam kolam dingin itu dengan helaan nafas yang panjang.
Dito telah siap merebahkan tubuhnya kembali pada ranjang empuk berlapis kain linen ketika ponselnya tiba-tiba membunyikan nada pesan email masuk. Dari asiangirl@hotmail.com; you’ve requested chatt date.
Pada ponsel di genggamannya ia berkata “Too late, so late. I lay now without law”